:: Jum’at, 03 Februari 2006, 00:06 WIB
Sebenarnya malam ini aku sudah dikasur dan ingin memulai tidur dengan mimpi yang indah. Ya, sangat indah. Tapi kantuk terganjal roman Saman, keinginan Ayu Utami yang sedikit lagi tamat. Bayangan seseorang yang menghempaskanku ke ruang rindu malah datang tergopoh-gopoh. Ingin kurefleksikan sinaran batin ini hingga terpaksa menghidupkan komputer dan memulai menulis.
Tulisan ini sebuah rahasia panjang:
Kelak, jika Tuhan mempertemukan aku dengannya dalam ikatan suci aku akan membacakan tulisan ini sambil aku duduk selonjoran dan dia tiduran dengan kepala dipaha kiriku. Tentu saja setelah membacakan dongeng terindah yang aku cari dari buku-buku yang terpilih. Atau dari situs internet yang aku acak secara rahasia. Sebagai kado ulangtahun pernikahan kami yang ke-5. Kelak, jika aku mulai kehilangan rindu padanya setelah dia begitu terhanyut dengan rayuan manisku, hingga kaku ketika bertemu, gagap ketika bicara dan salting ketika kutanya. Aku akan melakukan meditasi kembali. Memulai perlintasan dengan persahabatan semu. Kan kugoda dirinya dengan sangka, atau patahkan keinginannya dengan gombal.
Senin, 14 Januari 2008
SEPI – NASIB KITA SEMUA
Kesepian adalah suatu gejala yang sangat umum : Orang tua maupun orang muda, orang yang menikah atau yang hidup membujang, yang tinggal di daerah terpencil atau lebih-lebih yang tinggal di kota-kota besar dihinggapi perasaan sepi seorang diri. Apalagi, mereka yang kehilangan teman akrab atau teman hidup yang selama bertahun-tahun mendampingi mereka seringkali tidak mampu lagi membina hubungan baru yang akrab.
Kita semua membutuhkan hubungan yang akrab, intim dan mendalam. Bukan terutama secara jasamaniah, melainkan terlebih secara batiniah. Kita harus dapat berjumpa dalam hati ke hati. Berjubelnya orang-orang di kampung, di kota-kota besar, dan banyaknya pesawat televisi yang semakin menyisihkan pembicaraan dalam keluarga, menambah jumlah sesama kita yang merasa terasing tanpa teman yang mau mendengarkan.
Kesepian, - bagaikan suasana senyap pagi buta, ketika semua masih terlelap tertidur… tak ada suara orang, radio ataupun lalu lintas yang mengganggu ketenangan. Semua masih diam – tenang.
Kesepian, - tak seorangpun datang berkunjung, halaman dan rumah bagaikan mati, hanya detak jarum jam menunjukkan waktu yang telah berlalu tanpa makna dan isi.
Kesepian – tak ada tegur sapa dan jawaban, semua hubungan terasa mati, sepi sendiri, seakan-akan terkunci: orang orang – sesama manusia – bagaikan benda asing; tak ada yang oeduli, dingin membeku; orang kesepian merasa dilupakan, disingkirkan, tak ditemani, tak berguna bagi siapapun.
Kesepian, - suatu derita batin yang mencekam banyak orang, bukan saja mereka yang tinggal jauh dari pasar, jalan ramai atau kampung yang berjubel-jubel. Korbannya bukan hanya mereka yang tidak mempunyai keluarga atau teman sepekerjaan, atau suami dan isteri. Kesepian dapat menyusup ke dalam lubuk hati kita semua yang berada di tengah-tengah kesibukan dan keramaian sepanjang hari.
Manusia adalah makluk sosial, maka ia memerlukan hubungan manusiawi dengan sesamanya. Kodrat manusiawi menuntut agar kita menjalin hubungan akrab satu sama lain. Kita hidup bersama-sama dalam keluarga, suku dan masyarakat bukan hanya karena kita saling membutuhkan , tetapi karena kita merasa tertarik satu sama lain.
Bila keperluan manusiawi akan keakraban itu tidak terpenuhi, kita cenderung merasa tertekan walaupun hubungan ini, mungkin tidak kita sadari. Dalam keadaan seperti ini kita merasa ditolak dan terkurung dalam diri kita sendiri. Kita semua menderita kesepian – suatu rasa nyeri di uluhati yang dapat menghisap semangat dan memboroskan energi.
Banyak orang mencari konpensasi untuk mengisi keperluan mereka akan hubungan akrab dengan orang lain. Kompensasi ini berbagai macam : Ada orang yang cenderung melarikan diri ke dalam keramaian; rumah mereka senantiasa hiruk-pikuk, tamu datang silih berganti dan banyak kenalan diundang, ramai-ramai pergi piknik, nonton atau belanja.
Lain lagi memenuhi keperluan akan hubungan akrab itu dengan melibatkan diri dalam berbagai macam organisasi, sibuk dengan urusan-urusan kepanitiaan atau pertemuan. Tidak penting apakah yang dilakukan itu bermanfaat atau tidak.
Adajuga yang mudah berganti-ganti teman, karena mereka tidak mampu menjalin hubungan yang mendalam. Hubungan mereka dengan orang lain hanya berkisar pada soal bisnis, hobi atau omong kosong.
Seks bagi mereka yang saling memperhatikan, mengkomunikasikan hubungan yang akrab. Tetapi bagi mereka yang asing satu sama lain, seks malah menguatkan rasa keterasingan. Sama halnya dengan alkohol atau obat-obatan bius lainnya, seks tidak dapat membunuh kesepian. Bila rangsangan telah mereda, kesepian muncul kembali.
Orang kesepain mudah ketagihan, entah pada pekerjaan, alkohol, obat bius atau hubungan seks dengan sembarang orang. Ketagihan seperti itu meringankan penderitaan untuk sementara waktu. Kekecewaan akibat kesepian dihapuskan oleh kepuasan lain lain yang bersifat sementara. Orang-orang yang ketagihan lebih menyukai kepuasan yang membius dan cepat berlalu daripada dengan berani menghadapi sebab kekosongan dalam hidup mereka.
Nampaknya sudah menjadi hukum, bahwa bila sesuatu berkurang maka ketidak seimbangan mencari kompensasi sebagai jawaban. Tetapi sebagi makluk manusiawi kita berbeda dari makluk-makluk ciptaan lain, karena kita mampu mengambil keputusan.
Di beberapa tempat diseluruh tanah air kita, dibuka rumah-rumah khusus untuk menyepi. Diantaranya ada yang menerima tamu yang ingin bersemadi untuk beberapa hari saja, adapula yang didiami oleh para rahib atau rubiah yang seumur hidup menutup diri dalam rumah yang sunyi senyap dan dikelilingi oleh tembok tinggi untuk memisahkan mereka dari dunia ramai. Dalam kesepian itu mereka mencari hubungan yang semakin akrab dengan Tuhan, karena hanya dialah yang dapt mengisi kerinduan manusia akan keakraban yang menyeluruh.
Bagi kita semua sumber ini tersedia. Kesepian itu bagaikan demam yang merupakan suatu gejala. Yaitu gejala bahwa hati kita merindukan suatu kepuasan yang mendalam. Kesepian mengisyaratkan kepada kita, bahwa hubungan manusiawi kita kurang berakar secara mendalam, kurang terbuka, kurang akrab.
MANUSIA MAKHLUK YANG KESEPIAN
Manusia dibedakan dari makluk ciptaan lain karena ia sadar akan dirinya sendiri. Disamping sadsr akan segala macam perasaan tubuh dan aneka ragam peristiwa, kita menyadari perbedaan dan keterpisahan kita satu sama lain. ‘Aku’ kita berfungsi sebagi subjek atau sebagai pengamat atas tindakan-tidakan yang kita lakukan. Sebagai subjek ‘aku’ bertindak dan melakukan sesuatu.
Adanya kekhususan dan keunikan setiap manusia seringkali menyebabkan timbulnya ketegangan dalam kehidupan bersama. Masyarakat kolektif – baik yang primitif maupun yang modern – berusaha mengurangi kadar ketegangan ini dengan melebur para anggotanya dalam kehidupan berkelompok, sehingga masing-masing individu tenggelam dalam masyarakat. Namun demikian, tetap saja muncul individu-individu yang berkembang sebagai pribadi yang khas.
Keterbatasan kita sebagai makhluk biologis mengungkapkan juga keunikan kita masing-masing. Tidak ada dua orang persis sama. Dua orang kembar tidak iodentik satu sama lain, kendati mereka amat serupa. Tubuh kita menetukan batas kita, tetapi sekaligus melindungi juga keunikan pribadi yang kita miliki. Kita terbatas pada ruang dan waktu tertentu.
Beberapa binatang juga memiliki juga keahlian semacam itu. Tupai dari jenis tertentu (opposum), misalnya, akan pura-pura mati bila tidak berdaya menghindari serangan binatang lain. Secara naluriah hal itu dilakuakan untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi manusia melakukan hal serupa dengan sadar. Ia menyadari bahwa ia sedang bermain sandiwara. Manusia dapat memikirkan kembali perbuatannya, bahkan dapat merasa bersalah karenanya. Kalau kiat dapat menggunakan tubuh untuk menyembunyikan identitas kita, maka jelaslah bahwa tubuh sesungguhnya kurang mampu membatasi diri kita. Justru kita sendirilah yang dapat melampauinya. Meskipun demikian, perlu kita sadari bahwa melapaui batas-batas tubuh (transcedence) dapat membuat kita semakin merasa sepi dan terisolir.
Kesepian – suatu penderitaan
Orang yang kesepian jiwanya menderita, lubuk hatinya dihantui oleh semacam ketakutan. Kesepian itu bersumber pada keterpisahannya dari orang lain. Perasaan terasing yang kita alami dalam kehidupan bersama orang lain; terutama disebabkan oleh adanya dan kekhususan kita masing-masing. Mungkin kita pernah merasa begitu terasing dengan seseorang, sehingga kita tidak merasakan adanya hubungan sedikitpun dengannya.
Kita sudah mengalami keterpisahan dengan orang lain, semenjak kita masih bayi. Trauma yang terjadi pada awal hidup ini menanamkan kesan yang amat dalam dan mempengaruhi hidup kita dikemudian hari sebagai orang dewasa. Inilah yang paling menggelisahkan kita, karena tidak mempunyai ingatan apapun untuk menjelaskan asal-usulnya.
Keterpisahan tak akan pernah berakhir
Pengalaman akan keterpisahan dimulai pada saat kelahiran. Pada saat ini bayi terpaksa melepaskan kehangatan dan ketentraman yang diperolehnya dalam rahim sang ibu.
Dr. Frederick Laboyer – seorang ahli kandungan berkebangsaan Perancis – telah menemukan suatu metode yang diharapkan dapat mengurangi guncangan jiwa pada saat kelahiran.
Setelah keterpisahan akibat kelahiran, banyak anak harus hidup dalam keluarga dengan banyak anak lain. Hal ini dapat membuat bayi semakin merasa terpisah dari orang tuanya. Penderitaan semakin dalam pada usia remaja, ketika individualitas memuncak justru pada saat pemuda mengalami krisis harga diri dan identitas. Selama merasa pubertas, pertumbuhan jasmani menghasilkan kecenderungan kearah intimitas yang tentu saja bertentangan dengan dengan kesadaran akan keterpisahan yang semakin tajam pada waktu itu.
Kesepian akibat trauma
Setiap tahap dalam kehidupan mempunyai potensi untuk menciptakan kesepian. Tapi kita paling dicekam oleh kesepian pada waktu mengalami dukacita. Kedukaan yang disebabkan oleh meninggalnya orang yang amat dicintai dapat menenggelamkan seseorang dalam kesepian yang mendalam.
KESEPIAN YANG MENCEKAM
Kesepian kerapkali menyertai aneka ragam kejadian di setiap tahap kehidupan manusia. Ini memang wajar. Selain itu kesepian juga merupakan akibat dari ketidakberesan yang terdapat pada diri manusia sendiri.
Mempertahankan sikap egosentris.
Sikap defensif-ofensif (bertahan dan menyerang) ini menyebabkan jatuhnya manusia ke dalam jurang rasa sepi yang mendalam. Sikap ini bertolak belakang dengan sikap mau mengambil bagian atau sikap membuka diri. Kita cenderung membangun tembok pemisah daripada jembatan penghubung. Hubungan kita jadi dangkal karena kita menutup diri dari dengan berbagai macam kamuflase sama seperti Adam dan Hawa, kita juga tidak tahan bila tampak ‘telanjang’. Kita memerlukan ‘daun’ untuk menutup ketelanjangan kita. Dan pohon ara yang dipakai Adam dan Hawa, melambangkan usaha kita untuk menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya. Akibatnya, munculnya kesepian yang makin dalam dan mencekam.
Rasa Bersalah dan keterasingan
Jatuhnya manusia ke dalam dosa menimbulkan reaksi yaitu, rasa bersalah. Perasaan ini muncul karena kita merasa tidak bahagia karena telah menyeleweng dari tujuan hidup yang sejatidan tidak sesuai dengan kodrat yang kita miliki. Ketenangan jiwa kitapun goyah karenanya. Alasan paling memadai bagi perasaan tidak bahagia ini ialah ketidak serasian antara kita dengan kemanusiaan kita sendiri.
Lebih dari pada itu, rasa bersalah membuat kita kurang menghormati diri kita sendiri. Dalam istilah modern, sikap ini disebut ‘gambaran-diri yang rendah’ (low self-image). Kita sulit menerima diri kita sendiri apa adanya. Akibatnya, kita merasa tidak enak berhubungan dengan orang lain, juga dengan diri kita sendiri. Keadaan seperti ini sulit sekali dihindari meskipun telah kerapkali kita berusaha mengatasinya.
Pribadi-pribadi egois membentuk suatu masyarakat yang mendukung keterasingan dan kecurigaan. Philip Slater, dalam bukunya The Pursuit of Lonelines, melukiskan kecenderungan manusia yang dikatakannya lebih suka melibatkan diri dalam adu kekuatan daripada saling membagi pengalaman dan perasaan. Sikap ini tentu hanya akan menumbuhkan suatu masyarakat yang lebih suka bersaing daripada bekerjasama, yang akhirnya menghantar anggotanya pada bentuk kesepian yang mengerikan. Pada kontestan dalam adu kekuatan ini lebih menyukai ketertutupan daripada keterbukaan. Mereka lebih menyukai formalitas daripada ungkapan isi hati. Dalam masyarakat yang mendukung keterasingan individu macam ini, bagaimana mungkin kita dapat hidup tanpa rasa cemburu, iri hati dan usaha untuk saling menjatuhkan? Dan pada gilirannya sifat-sifat seperti itu akan membuat kita merasa semakin asing satu-sama lain, sehingga memaksa kita untuk mempertahankan ke-aku-an kita dengan lebih gigih lagi.
Rasa sepi ditengah-tengah keramaian
Sungguh ironis bahwa kesepian justru merupakan ciri khas dari keramaian. Kita seolah-olah merasa dimasukkan dalam sebuah kotak sabun bila tinggal disebuah kampung yang berjubel-jubel, atau bila mendiami sebuah flat yang rapat tersusun dalam sebuah gedung yang bertingkat-tingkat. Kontak dengan orang-orang sekitar kita terasa dipaksakan, sehingga menumbuhkan rasa asing dalam diri. Kita merasa seakan-akan didesak mundur untuk bersembunyi di dalam rumah siput kita yang sempit.
Kita dapat menjumpai orang-orang desa yang berusaha menutupi diri, walupun cara mereka berbeda dengan cara orang-orang kota. Masyarakat di desa atau di kota-kota kecil seringkali berhubungan satu sama lain hanya sekedar basa basi demi sopan santun. Dengan demikian hubungan diantara mereka tidak lebih dari suatu hubungan yang dangkal sifatnya.
KETAKUTAN TERHADAP KEAKRABAN
Banyak dari antar kita yang menyimpan dua macam pikiran mengenai keakraban : Dari satu pihak, kita merindukan hubungan akrab dengan orang lain untuk meringankan beban dari penderitaan rasa sepi yang menyiksa. Tapi di lain pihak kita meras takut terhadapnya. Kesepian sesungguhnya dapat dilukiskan sebagi rasa takut dan cinta.
Mengapa kita takut akan cinta? Dengan memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri. Sebenarnya kita, membangun kubu-kubu pertahanan untuk melindungi diri; dan kita merasa takut jangan-jangan orang lain menerobos kedalammya. Hubungan akrab dengan orang lain kita pandang sebagai ancaman terhadap rasa aman, yang hanya kita miliki bila berada di balik tembok yang membentengi diri kita itu.
Keakraban dalam perkawinan
Banyak orang yang merasa takut terhadap keakraban bahkan dalam bentuknya yang paling akrab, yakni perkawinan. Gambaran mengenai keakraban dalam kehidupan pasangan suami isteri, ditampilkan dalam adat istiadat perkawinan. Tapi perlu dibedakan antara upacara perkawinan dan hidup perkawinan itu sendiri. Upacara hanya bersifat sementara, sedangkan hidup perkawinan berlangsung selam pasangan masih hidup. Dalam kenyataan, menjadi suami dan isteri bukan hanya suatu kedudukan melainkan dan terutama suatu cara hidup bersama. Orang yang sudah menikah dapat tetap bersikap tertutup terhadap hubungan akrab dengan pasangannya. Sebaliknya orang yang hidup membujang dapat membuka diri sepenuhnya terhadap keakraban itu.
Persatuan seksual
Ketegangan yang muncul sebagi akibat keinginan untuk menjalin hubungan akrab dengan orang lain dan sekaligus mempertahanklan identitas diri, dilambangkan dalam keakraban seksual; Dari satu pihak, keakraban ini melambangkan persatuan yang sangat erat antara seorang pria dan seorang wanita, pria masuk kedalam tubuh wanita dan wanita membuka diri untuk menerima pria. Tapi dilain pihak, puncak dari persatuan itu ialah orgasme, yaitu suatu pengalaman yang terarah pada diri-sendiri (self-oriented). Manstrubasi menarik banyak orang yang justru karena pengalamn yang self-oriented itu orang memperoleh pengalaman yang nikmat tanpa harus merasa kecewa karena terpaksa berhubungan dengan orang lain. Pada saat melakukan manstrubasi, orang dapat mengkhayalkan orang lain sebagai partner yang berhubungan akrab dengannya. Tubuh yang dibayangkan itu sepenuhnya berada dibawah kontrolnya: secar mutlak dimilikinya.
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
Sekarang kita sampai pada pembicaraan mengenai berhubungan kita dengan orang lain. Bahwa pokok ini ditempatkan hampir pada bagian terakhir buku ini, tidak berarti hubungan dengan orang lain adalah faktor yang kurang penting dalam usaha kita untuk mengurangi penderitaan akibat kesepian. Hubungan dengan orang lain tidak boleh dianggap sebagi faktor kebetulan saja, tetapi juga bukan sebagai faktor yang pantas menyita seluruh perhatian kita dalam pemecahan masalah ini.
Kita membutuhkan teman
Walaupun kutipan itu sesuai dengan konteks sejarah mengenai pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, namun perlu dicatat bahwa hubungan manusia yang ditampilkan didalamnya sesungguhnya melampaui hubungan antara pria dan wanita. Kutipan itu menggambarkan kodrat manusia sebagai makhluik sosial, lebih daripada sekedar pergaulan antara seorang pria dan seorang wanita. Manusia termasuk golongan yang kedua. Kita membutuhkan teman dan bergaul akrab satu sama olain agar dapat megalami hidup manusiawi secara penuh. Kita semua memiliki kodrat sosial, baik yang hidup dalam masyarakat purba maupun yang sekarang ada dalam masyarakat modern. Kita hidup bersama-sama dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut marga, suku bangsa, atau pun negara bukan hanya saling melindungi melainkan juga agar dapat saling membantu untuk menikmati kebahagiaan bersama.
Kendati pokok mengenai hubungan antar manusia dibahas pada bagian terakhir, namun hubungan ini mendasari setiap hubungan lainnya. Tanpa hubungan dengan orang lain, bayi manuisa akan mati. Ia tidak hanya membutuhkan susu atau makanan lain, tetapi juga sapaan dan belaian. Banyak binatang yang tumbuh sehat asal keperluan jasmani mereka terpenuhi. Tak peduli itu dipenuhi oleh binatang sejenis atau oleh jenis lain, seperti oleh manusia misalnya. Tetapi bayi manusia sangat membutuhkan kehadiran orang lain yang sayang kepadanya. Ia sangat membutuhkan hubungan akrab dengan sesamanya agar dapat berkembang sebagai makhluk yang manusiawi.
MENGAMBIL RESIKO UNTUK MEMENUHI KEPERLUAN SENDIRI
Memperhatikan kepentingan sendiri.
Barang kali kita merasa enggan memperhatikan kepentingan kita sendiri. Sebab, kita beranggapan, bahwa setiap usaha yang ditujukan untuk memnuhi kepentingan diri sendiri bersifat egistis.
Banyak orang menganggap diri egois, bila melakukan sesuatu bagi kepentingan diri mereka sendiri. Sebab, bagi mereka, ‘aku’ dan ‘orang lain’ merupakan dua kategori yang terpisah satu sam lain. Bagian kedua dari hukum utama meluruskan masalah ini.
Mengatasi ketergantungan
Ada orang yang merasa segan untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, sekan-akan hendak meyakinkan diri mereka sendiri dan orang lain juga, bahwa mereka tidak menginginkan apa-apa. Dengan sikap pasif ini, mereka memaksa orang lain untuk mengambil keputusan yang semestinya merupakan keputusan bersama.
Orang yang suka menggantungkan diri pada orang lain, sebenarnya mau mempermainkan orang dan karenanya menjemukan.
BAGAIMANA KITA DAPAT MEMBANTU ORANG LAIN YANG KESEPIAN
Ada yang cukup banyak orang mengalami kesepian. Banyak diantaranya bahkan menderita cacad, sehingga penderitaan mereka tambah berat. Banyak orang tinggal dalam lembaga-lembaga yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang menderita penyakit jasmani, mental meupun sosial. Dan banyak ndari anatar lembaga-lembagaitu perlu dimanusiawikan.
Mirian Polster, seorang psikolog klinis, dalam suatu ceramahnya mengenai kesepian mengatakan, bahwa ia tidak habis mengerti mengapa ada orang yang dapat meras kesepian padahal katanya sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya. Rasa puas dengan pekerjaan biasanya diungkapkan secara lahiriah pada saat melakukan pekerjaan itu. Memang, tidak mungkin setiap oranmg dapat memperoleh pekerjaan yang memuaskan. Jika kita meras bahwa pekerjaan kita tidak berarti, sebaiknya kita mencari pekerjaan lain.
Kita menerima agar kita dapat memberi
Ada orang yang merasa kurang senang bila menerima sesuatu dari orang lain. Mereka merasa lebih layak memberi daripada menerima. Tapi ada juga orang yang merasa lebih suka menerima daripada memberi. Mereka bagaikan orang yang gemar tawar-menawar untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Memberi dan menerima adalah penting untuk mencapai kemanusiaan yang utuh. Dalm bab sebelumnya kita telah menekankan pentingnya sikap terbuka untuk menerima. Maka dalam bab Ini kita perlu menekankan pentingnya sikap mau memberi.
Memberi adalah baik bagi kita sendiri. Tapi, ini bukan alasan satu-satunya supaya mau memberi. Memberi harus berarti menjawab keperluan sesama kita. Ini alasan yang lebih memadai. Dalam perumpamaanNya tentang orang Samaria, jusus menekankan segi ‘memberi’ itu. Seorang Yahudi digambarkan menggeletak tak berdaya ditepi sebuah jalan. Satu-satunya orang yang memperhatikan nasibnya adalah seorang Samaria,yaitu orang yang berasal dari kalangan yang dikucilkan oleh masyarakat Yahudi.
Potensi masa kini
Jelaslah bahwa keterlibatan kita dalam kegiatan membantu dan melayani sesama manusia memiliki dimensi masa depan. Kita merencanakan dan menetukan tujuan di masa depan. Namun demikian, kepuasan yang hendak kita nikmati bersumber pada masa kini. Jika kita terbuka terhadap segala sesuatu yang ditawarkan oleh masa kini, maka kita tidak akan menggantungkan segalanya pada masa yang akan datang. Kita akan terbuka bagi hubungan akrab sekarang ini dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan dan dengan diri kita sendiri. Kita akan mampu berhenti sejenak di tengah-tengah kesibukan kita untuk menghisap semerbaknya aroma bunga.
Kita memandang kesepian sebagai suatu masalah. Memang seharusnya demikian. Namun, kesepian sesungguhnya merupakan kesempatan yang baik pula bagi kita. Dengan membahas masalah kesepian, kita telah membahas pula seluruh ruang lingkup kesempatan yang disediakan bagi kita untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu yang berharga dan membahagiakan. Dengan demikian, kesepian mulai berubah dari suatu masalah menjadi suatu kesempatan. Hal ini diungkapkan dengan tepat sekali oleh seorang janda yang telah hidup sendirian selama dua belas tahun.
Kita semua membutuhkan hubungan yang akrab, intim dan mendalam. Bukan terutama secara jasamaniah, melainkan terlebih secara batiniah. Kita harus dapat berjumpa dalam hati ke hati. Berjubelnya orang-orang di kampung, di kota-kota besar, dan banyaknya pesawat televisi yang semakin menyisihkan pembicaraan dalam keluarga, menambah jumlah sesama kita yang merasa terasing tanpa teman yang mau mendengarkan.
Kesepian, - bagaikan suasana senyap pagi buta, ketika semua masih terlelap tertidur… tak ada suara orang, radio ataupun lalu lintas yang mengganggu ketenangan. Semua masih diam – tenang.
Kesepian, - tak seorangpun datang berkunjung, halaman dan rumah bagaikan mati, hanya detak jarum jam menunjukkan waktu yang telah berlalu tanpa makna dan isi.
Kesepian – tak ada tegur sapa dan jawaban, semua hubungan terasa mati, sepi sendiri, seakan-akan terkunci: orang orang – sesama manusia – bagaikan benda asing; tak ada yang oeduli, dingin membeku; orang kesepian merasa dilupakan, disingkirkan, tak ditemani, tak berguna bagi siapapun.
Kesepian, - suatu derita batin yang mencekam banyak orang, bukan saja mereka yang tinggal jauh dari pasar, jalan ramai atau kampung yang berjubel-jubel. Korbannya bukan hanya mereka yang tidak mempunyai keluarga atau teman sepekerjaan, atau suami dan isteri. Kesepian dapat menyusup ke dalam lubuk hati kita semua yang berada di tengah-tengah kesibukan dan keramaian sepanjang hari.
Manusia adalah makluk sosial, maka ia memerlukan hubungan manusiawi dengan sesamanya. Kodrat manusiawi menuntut agar kita menjalin hubungan akrab satu sama lain. Kita hidup bersama-sama dalam keluarga, suku dan masyarakat bukan hanya karena kita saling membutuhkan , tetapi karena kita merasa tertarik satu sama lain.
Bila keperluan manusiawi akan keakraban itu tidak terpenuhi, kita cenderung merasa tertekan walaupun hubungan ini, mungkin tidak kita sadari. Dalam keadaan seperti ini kita merasa ditolak dan terkurung dalam diri kita sendiri. Kita semua menderita kesepian – suatu rasa nyeri di uluhati yang dapat menghisap semangat dan memboroskan energi.
Banyak orang mencari konpensasi untuk mengisi keperluan mereka akan hubungan akrab dengan orang lain. Kompensasi ini berbagai macam : Ada orang yang cenderung melarikan diri ke dalam keramaian; rumah mereka senantiasa hiruk-pikuk, tamu datang silih berganti dan banyak kenalan diundang, ramai-ramai pergi piknik, nonton atau belanja.
Lain lagi memenuhi keperluan akan hubungan akrab itu dengan melibatkan diri dalam berbagai macam organisasi, sibuk dengan urusan-urusan kepanitiaan atau pertemuan. Tidak penting apakah yang dilakukan itu bermanfaat atau tidak.
Adajuga yang mudah berganti-ganti teman, karena mereka tidak mampu menjalin hubungan yang mendalam. Hubungan mereka dengan orang lain hanya berkisar pada soal bisnis, hobi atau omong kosong.
Seks bagi mereka yang saling memperhatikan, mengkomunikasikan hubungan yang akrab. Tetapi bagi mereka yang asing satu sama lain, seks malah menguatkan rasa keterasingan. Sama halnya dengan alkohol atau obat-obatan bius lainnya, seks tidak dapat membunuh kesepian. Bila rangsangan telah mereda, kesepian muncul kembali.
Orang kesepain mudah ketagihan, entah pada pekerjaan, alkohol, obat bius atau hubungan seks dengan sembarang orang. Ketagihan seperti itu meringankan penderitaan untuk sementara waktu. Kekecewaan akibat kesepian dihapuskan oleh kepuasan lain lain yang bersifat sementara. Orang-orang yang ketagihan lebih menyukai kepuasan yang membius dan cepat berlalu daripada dengan berani menghadapi sebab kekosongan dalam hidup mereka.
Nampaknya sudah menjadi hukum, bahwa bila sesuatu berkurang maka ketidak seimbangan mencari kompensasi sebagai jawaban. Tetapi sebagi makluk manusiawi kita berbeda dari makluk-makluk ciptaan lain, karena kita mampu mengambil keputusan.
Di beberapa tempat diseluruh tanah air kita, dibuka rumah-rumah khusus untuk menyepi. Diantaranya ada yang menerima tamu yang ingin bersemadi untuk beberapa hari saja, adapula yang didiami oleh para rahib atau rubiah yang seumur hidup menutup diri dalam rumah yang sunyi senyap dan dikelilingi oleh tembok tinggi untuk memisahkan mereka dari dunia ramai. Dalam kesepian itu mereka mencari hubungan yang semakin akrab dengan Tuhan, karena hanya dialah yang dapt mengisi kerinduan manusia akan keakraban yang menyeluruh.
Bagi kita semua sumber ini tersedia. Kesepian itu bagaikan demam yang merupakan suatu gejala. Yaitu gejala bahwa hati kita merindukan suatu kepuasan yang mendalam. Kesepian mengisyaratkan kepada kita, bahwa hubungan manusiawi kita kurang berakar secara mendalam, kurang terbuka, kurang akrab.
MANUSIA MAKHLUK YANG KESEPIAN
Manusia dibedakan dari makluk ciptaan lain karena ia sadar akan dirinya sendiri. Disamping sadsr akan segala macam perasaan tubuh dan aneka ragam peristiwa, kita menyadari perbedaan dan keterpisahan kita satu sama lain. ‘Aku’ kita berfungsi sebagi subjek atau sebagai pengamat atas tindakan-tidakan yang kita lakukan. Sebagai subjek ‘aku’ bertindak dan melakukan sesuatu.
Adanya kekhususan dan keunikan setiap manusia seringkali menyebabkan timbulnya ketegangan dalam kehidupan bersama. Masyarakat kolektif – baik yang primitif maupun yang modern – berusaha mengurangi kadar ketegangan ini dengan melebur para anggotanya dalam kehidupan berkelompok, sehingga masing-masing individu tenggelam dalam masyarakat. Namun demikian, tetap saja muncul individu-individu yang berkembang sebagai pribadi yang khas.
Keterbatasan kita sebagai makhluk biologis mengungkapkan juga keunikan kita masing-masing. Tidak ada dua orang persis sama. Dua orang kembar tidak iodentik satu sama lain, kendati mereka amat serupa. Tubuh kita menetukan batas kita, tetapi sekaligus melindungi juga keunikan pribadi yang kita miliki. Kita terbatas pada ruang dan waktu tertentu.
Beberapa binatang juga memiliki juga keahlian semacam itu. Tupai dari jenis tertentu (opposum), misalnya, akan pura-pura mati bila tidak berdaya menghindari serangan binatang lain. Secara naluriah hal itu dilakuakan untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi manusia melakukan hal serupa dengan sadar. Ia menyadari bahwa ia sedang bermain sandiwara. Manusia dapat memikirkan kembali perbuatannya, bahkan dapat merasa bersalah karenanya. Kalau kiat dapat menggunakan tubuh untuk menyembunyikan identitas kita, maka jelaslah bahwa tubuh sesungguhnya kurang mampu membatasi diri kita. Justru kita sendirilah yang dapat melampauinya. Meskipun demikian, perlu kita sadari bahwa melapaui batas-batas tubuh (transcedence) dapat membuat kita semakin merasa sepi dan terisolir.
Kesepian – suatu penderitaan
Orang yang kesepian jiwanya menderita, lubuk hatinya dihantui oleh semacam ketakutan. Kesepian itu bersumber pada keterpisahannya dari orang lain. Perasaan terasing yang kita alami dalam kehidupan bersama orang lain; terutama disebabkan oleh adanya dan kekhususan kita masing-masing. Mungkin kita pernah merasa begitu terasing dengan seseorang, sehingga kita tidak merasakan adanya hubungan sedikitpun dengannya.
Kita sudah mengalami keterpisahan dengan orang lain, semenjak kita masih bayi. Trauma yang terjadi pada awal hidup ini menanamkan kesan yang amat dalam dan mempengaruhi hidup kita dikemudian hari sebagai orang dewasa. Inilah yang paling menggelisahkan kita, karena tidak mempunyai ingatan apapun untuk menjelaskan asal-usulnya.
Keterpisahan tak akan pernah berakhir
Pengalaman akan keterpisahan dimulai pada saat kelahiran. Pada saat ini bayi terpaksa melepaskan kehangatan dan ketentraman yang diperolehnya dalam rahim sang ibu.
Dr. Frederick Laboyer – seorang ahli kandungan berkebangsaan Perancis – telah menemukan suatu metode yang diharapkan dapat mengurangi guncangan jiwa pada saat kelahiran.
Setelah keterpisahan akibat kelahiran, banyak anak harus hidup dalam keluarga dengan banyak anak lain. Hal ini dapat membuat bayi semakin merasa terpisah dari orang tuanya. Penderitaan semakin dalam pada usia remaja, ketika individualitas memuncak justru pada saat pemuda mengalami krisis harga diri dan identitas. Selama merasa pubertas, pertumbuhan jasmani menghasilkan kecenderungan kearah intimitas yang tentu saja bertentangan dengan dengan kesadaran akan keterpisahan yang semakin tajam pada waktu itu.
Kesepian akibat trauma
Setiap tahap dalam kehidupan mempunyai potensi untuk menciptakan kesepian. Tapi kita paling dicekam oleh kesepian pada waktu mengalami dukacita. Kedukaan yang disebabkan oleh meninggalnya orang yang amat dicintai dapat menenggelamkan seseorang dalam kesepian yang mendalam.
KESEPIAN YANG MENCEKAM
Kesepian kerapkali menyertai aneka ragam kejadian di setiap tahap kehidupan manusia. Ini memang wajar. Selain itu kesepian juga merupakan akibat dari ketidakberesan yang terdapat pada diri manusia sendiri.
Mempertahankan sikap egosentris.
Sikap defensif-ofensif (bertahan dan menyerang) ini menyebabkan jatuhnya manusia ke dalam jurang rasa sepi yang mendalam. Sikap ini bertolak belakang dengan sikap mau mengambil bagian atau sikap membuka diri. Kita cenderung membangun tembok pemisah daripada jembatan penghubung. Hubungan kita jadi dangkal karena kita menutup diri dari dengan berbagai macam kamuflase sama seperti Adam dan Hawa, kita juga tidak tahan bila tampak ‘telanjang’. Kita memerlukan ‘daun’ untuk menutup ketelanjangan kita. Dan pohon ara yang dipakai Adam dan Hawa, melambangkan usaha kita untuk menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya. Akibatnya, munculnya kesepian yang makin dalam dan mencekam.
Rasa Bersalah dan keterasingan
Jatuhnya manusia ke dalam dosa menimbulkan reaksi yaitu, rasa bersalah. Perasaan ini muncul karena kita merasa tidak bahagia karena telah menyeleweng dari tujuan hidup yang sejatidan tidak sesuai dengan kodrat yang kita miliki. Ketenangan jiwa kitapun goyah karenanya. Alasan paling memadai bagi perasaan tidak bahagia ini ialah ketidak serasian antara kita dengan kemanusiaan kita sendiri.
Lebih dari pada itu, rasa bersalah membuat kita kurang menghormati diri kita sendiri. Dalam istilah modern, sikap ini disebut ‘gambaran-diri yang rendah’ (low self-image). Kita sulit menerima diri kita sendiri apa adanya. Akibatnya, kita merasa tidak enak berhubungan dengan orang lain, juga dengan diri kita sendiri. Keadaan seperti ini sulit sekali dihindari meskipun telah kerapkali kita berusaha mengatasinya.
Pribadi-pribadi egois membentuk suatu masyarakat yang mendukung keterasingan dan kecurigaan. Philip Slater, dalam bukunya The Pursuit of Lonelines, melukiskan kecenderungan manusia yang dikatakannya lebih suka melibatkan diri dalam adu kekuatan daripada saling membagi pengalaman dan perasaan. Sikap ini tentu hanya akan menumbuhkan suatu masyarakat yang lebih suka bersaing daripada bekerjasama, yang akhirnya menghantar anggotanya pada bentuk kesepian yang mengerikan. Pada kontestan dalam adu kekuatan ini lebih menyukai ketertutupan daripada keterbukaan. Mereka lebih menyukai formalitas daripada ungkapan isi hati. Dalam masyarakat yang mendukung keterasingan individu macam ini, bagaimana mungkin kita dapat hidup tanpa rasa cemburu, iri hati dan usaha untuk saling menjatuhkan? Dan pada gilirannya sifat-sifat seperti itu akan membuat kita merasa semakin asing satu-sama lain, sehingga memaksa kita untuk mempertahankan ke-aku-an kita dengan lebih gigih lagi.
Rasa sepi ditengah-tengah keramaian
Sungguh ironis bahwa kesepian justru merupakan ciri khas dari keramaian. Kita seolah-olah merasa dimasukkan dalam sebuah kotak sabun bila tinggal disebuah kampung yang berjubel-jubel, atau bila mendiami sebuah flat yang rapat tersusun dalam sebuah gedung yang bertingkat-tingkat. Kontak dengan orang-orang sekitar kita terasa dipaksakan, sehingga menumbuhkan rasa asing dalam diri. Kita merasa seakan-akan didesak mundur untuk bersembunyi di dalam rumah siput kita yang sempit.
Kita dapat menjumpai orang-orang desa yang berusaha menutupi diri, walupun cara mereka berbeda dengan cara orang-orang kota. Masyarakat di desa atau di kota-kota kecil seringkali berhubungan satu sama lain hanya sekedar basa basi demi sopan santun. Dengan demikian hubungan diantara mereka tidak lebih dari suatu hubungan yang dangkal sifatnya.
KETAKUTAN TERHADAP KEAKRABAN
Banyak dari antar kita yang menyimpan dua macam pikiran mengenai keakraban : Dari satu pihak, kita merindukan hubungan akrab dengan orang lain untuk meringankan beban dari penderitaan rasa sepi yang menyiksa. Tapi di lain pihak kita meras takut terhadapnya. Kesepian sesungguhnya dapat dilukiskan sebagi rasa takut dan cinta.
Mengapa kita takut akan cinta? Dengan memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri. Sebenarnya kita, membangun kubu-kubu pertahanan untuk melindungi diri; dan kita merasa takut jangan-jangan orang lain menerobos kedalammya. Hubungan akrab dengan orang lain kita pandang sebagai ancaman terhadap rasa aman, yang hanya kita miliki bila berada di balik tembok yang membentengi diri kita itu.
Keakraban dalam perkawinan
Banyak orang yang merasa takut terhadap keakraban bahkan dalam bentuknya yang paling akrab, yakni perkawinan. Gambaran mengenai keakraban dalam kehidupan pasangan suami isteri, ditampilkan dalam adat istiadat perkawinan. Tapi perlu dibedakan antara upacara perkawinan dan hidup perkawinan itu sendiri. Upacara hanya bersifat sementara, sedangkan hidup perkawinan berlangsung selam pasangan masih hidup. Dalam kenyataan, menjadi suami dan isteri bukan hanya suatu kedudukan melainkan dan terutama suatu cara hidup bersama. Orang yang sudah menikah dapat tetap bersikap tertutup terhadap hubungan akrab dengan pasangannya. Sebaliknya orang yang hidup membujang dapat membuka diri sepenuhnya terhadap keakraban itu.
Persatuan seksual
Ketegangan yang muncul sebagi akibat keinginan untuk menjalin hubungan akrab dengan orang lain dan sekaligus mempertahanklan identitas diri, dilambangkan dalam keakraban seksual; Dari satu pihak, keakraban ini melambangkan persatuan yang sangat erat antara seorang pria dan seorang wanita, pria masuk kedalam tubuh wanita dan wanita membuka diri untuk menerima pria. Tapi dilain pihak, puncak dari persatuan itu ialah orgasme, yaitu suatu pengalaman yang terarah pada diri-sendiri (self-oriented). Manstrubasi menarik banyak orang yang justru karena pengalamn yang self-oriented itu orang memperoleh pengalaman yang nikmat tanpa harus merasa kecewa karena terpaksa berhubungan dengan orang lain. Pada saat melakukan manstrubasi, orang dapat mengkhayalkan orang lain sebagai partner yang berhubungan akrab dengannya. Tubuh yang dibayangkan itu sepenuhnya berada dibawah kontrolnya: secar mutlak dimilikinya.
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
Sekarang kita sampai pada pembicaraan mengenai berhubungan kita dengan orang lain. Bahwa pokok ini ditempatkan hampir pada bagian terakhir buku ini, tidak berarti hubungan dengan orang lain adalah faktor yang kurang penting dalam usaha kita untuk mengurangi penderitaan akibat kesepian. Hubungan dengan orang lain tidak boleh dianggap sebagi faktor kebetulan saja, tetapi juga bukan sebagai faktor yang pantas menyita seluruh perhatian kita dalam pemecahan masalah ini.
Kita membutuhkan teman
Walaupun kutipan itu sesuai dengan konteks sejarah mengenai pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, namun perlu dicatat bahwa hubungan manusia yang ditampilkan didalamnya sesungguhnya melampaui hubungan antara pria dan wanita. Kutipan itu menggambarkan kodrat manusia sebagai makhluik sosial, lebih daripada sekedar pergaulan antara seorang pria dan seorang wanita. Manusia termasuk golongan yang kedua. Kita membutuhkan teman dan bergaul akrab satu sama olain agar dapat megalami hidup manusiawi secara penuh. Kita semua memiliki kodrat sosial, baik yang hidup dalam masyarakat purba maupun yang sekarang ada dalam masyarakat modern. Kita hidup bersama-sama dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut marga, suku bangsa, atau pun negara bukan hanya saling melindungi melainkan juga agar dapat saling membantu untuk menikmati kebahagiaan bersama.
Kendati pokok mengenai hubungan antar manusia dibahas pada bagian terakhir, namun hubungan ini mendasari setiap hubungan lainnya. Tanpa hubungan dengan orang lain, bayi manuisa akan mati. Ia tidak hanya membutuhkan susu atau makanan lain, tetapi juga sapaan dan belaian. Banyak binatang yang tumbuh sehat asal keperluan jasmani mereka terpenuhi. Tak peduli itu dipenuhi oleh binatang sejenis atau oleh jenis lain, seperti oleh manusia misalnya. Tetapi bayi manusia sangat membutuhkan kehadiran orang lain yang sayang kepadanya. Ia sangat membutuhkan hubungan akrab dengan sesamanya agar dapat berkembang sebagai makhluk yang manusiawi.
MENGAMBIL RESIKO UNTUK MEMENUHI KEPERLUAN SENDIRI
Memperhatikan kepentingan sendiri.
Barang kali kita merasa enggan memperhatikan kepentingan kita sendiri. Sebab, kita beranggapan, bahwa setiap usaha yang ditujukan untuk memnuhi kepentingan diri sendiri bersifat egistis.
Banyak orang menganggap diri egois, bila melakukan sesuatu bagi kepentingan diri mereka sendiri. Sebab, bagi mereka, ‘aku’ dan ‘orang lain’ merupakan dua kategori yang terpisah satu sam lain. Bagian kedua dari hukum utama meluruskan masalah ini.
Mengatasi ketergantungan
Ada orang yang merasa segan untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, sekan-akan hendak meyakinkan diri mereka sendiri dan orang lain juga, bahwa mereka tidak menginginkan apa-apa. Dengan sikap pasif ini, mereka memaksa orang lain untuk mengambil keputusan yang semestinya merupakan keputusan bersama.
Orang yang suka menggantungkan diri pada orang lain, sebenarnya mau mempermainkan orang dan karenanya menjemukan.
BAGAIMANA KITA DAPAT MEMBANTU ORANG LAIN YANG KESEPIAN
Ada yang cukup banyak orang mengalami kesepian. Banyak diantaranya bahkan menderita cacad, sehingga penderitaan mereka tambah berat. Banyak orang tinggal dalam lembaga-lembaga yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang menderita penyakit jasmani, mental meupun sosial. Dan banyak ndari anatar lembaga-lembagaitu perlu dimanusiawikan.
Mirian Polster, seorang psikolog klinis, dalam suatu ceramahnya mengenai kesepian mengatakan, bahwa ia tidak habis mengerti mengapa ada orang yang dapat meras kesepian padahal katanya sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya. Rasa puas dengan pekerjaan biasanya diungkapkan secara lahiriah pada saat melakukan pekerjaan itu. Memang, tidak mungkin setiap oranmg dapat memperoleh pekerjaan yang memuaskan. Jika kita meras bahwa pekerjaan kita tidak berarti, sebaiknya kita mencari pekerjaan lain.
Kita menerima agar kita dapat memberi
Ada orang yang merasa kurang senang bila menerima sesuatu dari orang lain. Mereka merasa lebih layak memberi daripada menerima. Tapi ada juga orang yang merasa lebih suka menerima daripada memberi. Mereka bagaikan orang yang gemar tawar-menawar untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Memberi dan menerima adalah penting untuk mencapai kemanusiaan yang utuh. Dalm bab sebelumnya kita telah menekankan pentingnya sikap terbuka untuk menerima. Maka dalam bab Ini kita perlu menekankan pentingnya sikap mau memberi.
Memberi adalah baik bagi kita sendiri. Tapi, ini bukan alasan satu-satunya supaya mau memberi. Memberi harus berarti menjawab keperluan sesama kita. Ini alasan yang lebih memadai. Dalam perumpamaanNya tentang orang Samaria, jusus menekankan segi ‘memberi’ itu. Seorang Yahudi digambarkan menggeletak tak berdaya ditepi sebuah jalan. Satu-satunya orang yang memperhatikan nasibnya adalah seorang Samaria,yaitu orang yang berasal dari kalangan yang dikucilkan oleh masyarakat Yahudi.
Potensi masa kini
Jelaslah bahwa keterlibatan kita dalam kegiatan membantu dan melayani sesama manusia memiliki dimensi masa depan. Kita merencanakan dan menetukan tujuan di masa depan. Namun demikian, kepuasan yang hendak kita nikmati bersumber pada masa kini. Jika kita terbuka terhadap segala sesuatu yang ditawarkan oleh masa kini, maka kita tidak akan menggantungkan segalanya pada masa yang akan datang. Kita akan terbuka bagi hubungan akrab sekarang ini dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan dan dengan diri kita sendiri. Kita akan mampu berhenti sejenak di tengah-tengah kesibukan kita untuk menghisap semerbaknya aroma bunga.
Kita memandang kesepian sebagai suatu masalah. Memang seharusnya demikian. Namun, kesepian sesungguhnya merupakan kesempatan yang baik pula bagi kita. Dengan membahas masalah kesepian, kita telah membahas pula seluruh ruang lingkup kesempatan yang disediakan bagi kita untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu yang berharga dan membahagiakan. Dengan demikian, kesepian mulai berubah dari suatu masalah menjadi suatu kesempatan. Hal ini diungkapkan dengan tepat sekali oleh seorang janda yang telah hidup sendirian selama dua belas tahun.
Essey Putsak
PENJELAJAHAN DI KOTAK SABUN
:manusia, makhluk hina dina fakir papa
"Bacalah!, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"
(Al-Alaq :1)
Jangan sekali-kali membaca ayat-ayat yang tertulis dan nampak dihadapan kita tanpa menyertakan pemilik kita, Allah Subhanahu Wataala.
Manusia, adalah makhluk Allah Swt. yang lebih kecil dari atom yang dibagi sejuta, bahkan lebih kecil lagi, coba kita bagi sejuta lagi. Tak ada yang berarti dari yang namanya manusia dihadapan Allah Azza Wazala.
Kita hanya mampu "meminjam" dari sebagian kecil bahkan sangat kecil dan tak berarti apapun bagi Allah Swt. yang menempel pada diri kita. Betapa terhina dan tidak berartinya kita di hadapan Allah Swt. Untuk menembus pengetahuan pun, kita hanya mampu meminjam.
Baiklah, kita pinjam yang paling besar manfaatnya dan berarti dalam hidup kita. Kita meminjam milik Allah Subhanahu Wataala yaitu otak yang mengolah fikiran.
Kita fikirkan dan bayangkan bahwa alam semesta ini sebesar kotak sabun. Diumpamakan bentuk kotak sabun karena manusia belum dan tak akan pernah menemukan bentuk dan ukuran alam raya ciptaan Allah Subhanahu Wataala ini. Yang mampu menduga hanyalah daya khayal, imajinasi dari yang dipinjamkan Allah Subhanahu Wataala pada kita.
Sekalipun teknologi tercanggih yang saat ini dapatkan, jangankan menembus, mengukur, menelusuri, menjelajahi, melihat atau katakanlah membayangkan saja, kita sungguh sangat terbatas!. Dengan demikian kita begitu bodoh dan sedikit pengetahuan tentang alam raya yang sangat luas ini. Dan kita hanya mampu membayangkan saja, walaupun itu didapat dari pinjaman Allah Swt.
Semoga Allah Swt. meridhai apa yang kita pinjam. Sesuai dengan janjiNya, bahwa Allah Swt. ridha jika kita sebagai hambaNya pun ridha, ridha dalam arti manfaat sesuai yang diperintahkan bukan kesewenang-wenangan.
Kita pinjam perumpamaan jagat raya ini dengan segenggam bentuk kotak sabun. Kita tatap kotak sabun dihadapan kita diatas meja. Kita perbesar dengan kemampuan penghayatan dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali! maka kita temukan jutaan galaksi.
Galaksi, kumpulan bintang-bintang yang berjumlah jutaan atau milyaran. Yang berkelip dan berkedip-kedip. Kedipan yang dapat disaksikan lebih dekat dari kemampuan teknologi tercanggih saat ini (contoh dengan teleskop terbesar dunia buatan AS, Hale yang berdiameter 508 cm) ternyata berjarak jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya sama dengan 5.9 Mil x 1012 atau 300.000km/detik!. Bayangkan dengan kecepatan teknologi manusia saat ini yang hanya mampu mencapai 2, 3 atau 5 mach! (kecepatan suara, 1 mach sama dengan ± 800 km/jam).
Kita perbesar lagi kumpulan galaksi tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jutaan galaksi yang ada, kita baru mengenal temuan dan praduga ilmuwan dengan nama galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti adalah sebuah kumpulan dari bintang-bintang yang masing-masing mempunyai satelit atau pengekor. Atau agar lebih akrab kita sebut dengan sebutan sekumpulan keluarga bintang.
Kita perbesar lagi kumpulan keluarga bintang tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jutaan bintang, satu bintang yang kita kenal dan paling dekat juga memberi salah satu unsur sumber kehidupan yaitu Matahari. Matahari, dengan garis tengah ± 1.4 juta km dan besarnya ±1.3 juta besar bumi. Satu kali berputarnya matahari pada galaksi selama ± 225 milyar tahun. Mempunyai 9 planet yakni; Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto.
Kita perbesar lagi kumpulan planet yang sembilan tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari sembilan planet yang kita kenal, kita adalah salah satu penghuni satu dari sembilan planet tadi, yaitu bumi. Susunan ketiga dari sembilan planet matahari yang kita kenal. Satu-satunya benda langit yang memiliki banyak air dan oksigen pada permukaannya. Yang terbentuk sekitar 4.5 milyar tahun lalu (Manusia hanya berumur rata-rata 60-70 tahun!). Dengan penghuni yang namanya manusia saat ini berjumlah ± 6 milyar orang. Entah berapa banyak jumlah makhluk lainnya. Sebuat saja nyamuk, belalang, ayam, burung juga makhluk Allah Swt yang berupa bakteri yang tidak tampak yang ada ditiap-tiap manusia.
Kita perbesar lagi kumpulan makluk hidup yang berjumlah milyaran tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jumlah yang tidak terhitung itu, kita akan menemukan dua makluk hina dina fakir papa, yang tak mampu apa-apa, yang hanya mengandalkan sedikit saja kekuasaan Allah Subhanahu Wataala, yaitu aku dan kamu.
Dua makluk Allah Swt. ini begitu tidak berarti. Jangankan dihadapan Allah Swt. yang tidak ada tandingan dengan makhlukNya, dengan makhluk ciptaanNya saja kita tidak dapat membandingkan. Jangankan dengan makhluk yang baik atau sholeh, dengan yang jahat saja kita tidak sebanding apa-apa. Hanya kekuatan Allah Swt. yang dapat menggerakkan dan menaik-turunkan derajat kita. Firaun, yang tercatat dalam Al-Quran sebagai manusia laknat yang dicontohkan Allah Swt., jauh lebih kaya dan lebih berkuasa dibanding aku dan kamu!
Apa yang kita niat sombongkan? Harta? Tahta? Harga diri? sungguh! tidak berarti apa-apa.
Allahu Akbar!!!
Menangis sampai matipun tidak dapat menebus apa yang kita niat sombongkan. Hanya niatan saja!, apalagi yang pernah kita lakukan. Begitu juga dengan kelalaian dan dosa-dosa yang pernah kita perbuat.
Allahu Akbar!!!,
Hanya orang-orang yang berimanlah yang beruntung!
Iman kepada Allah Swt., mengharap ampunanNya adalah perintah pemilik jagat raya yang sangat luas ini. Sebuah perintah yang sangat "kecil" dan tidak berarti dihadapanNya, tapi begitu berat kita memikulnya.
Bacalah!, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
Membaca alam dan menafakuri ciptaanNya adalah sebuah bentuk ibadah, bagian dari pengabdian kepada Allah Swt. Bisa juga dikategorikan dzikrullah, mengingat Allah Swt. Karena manusia sangatlah terbatas, sebagai panduan kita untuk mengenalNya ialah dengan mengenal ciptaanNya. Hasil karya Allah Swt. beserta instrumen yang ada didalamnya. Karena ayat-ayat Allah Swt. itu sangat luas. Seperti perbandingan air yang menetes adalah ilmu yang kita semua miliki, dengan samudera yang sangat luas. Sungguh tidak berarti apa-apa sesuatu yang kita ketahui melainkan sedikit saja.
Membaca karya agung Allah Swt, seperti gunung tinggi, laut lepas, langit biru dan alam lainnya. Juga instrument pendukungnya atau malah perusaknya, sebut saja hewan, binatang, tumbuhan dan manusia, aku dan kamu. Laki-laki dan perempuan, saling mempelajari, memahami sifat-sifat baiknya, mengikuti apa yang baik disarankannya, menjauhi dan melarang keburukan yang dilakukannya adalah bentuk dzikrullah.
Semut yang kecil pun berdzikir pada Allah Swt, menembangkan nama Tuhan, maka kita jaga tasbihnya, kita pertahankan kekhusuannya di malam gelap, di siang sibuk, atau dilelah sangat. karena waktu-waktu itulah kita harus mengingat Allah Swt.
Dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman: Dan beribadahlah kamu disela-sela kesibukanmu maka akan Aku cabut kefakiran pada dirimu. Jika tidak, maka Aku akan buat kalian sibuk tetapi tidak akan Aku cabut kefakiran atas dirimu.
Fakir, bukan saja dalam arti materi tetapi bisa juga dalam arti non materi seperti rasa resah, panik, takut miskin, merasa kurang, do’a susah terkabul dll., adalah bentuk kefakiran yang mungkin Allah Swt. terapkan pada kita, hingga suatu waktu kita merenungi langkah-langkah yang telah kita perbuat dan senantiasa bertobat memohon ampunanNya serta mengharap ridha dan kasih sayangNya.
Wa anal-faqir! Wa nahna-l fuqara! Dan aku hanya hamba hina-dina, fakir-papa yang masih mencoba berjuang dan terus belajar dari keterpaksaan dan kesabaran, kesempitan dan kelapangan untuk sekedar memperoleh secipratan saja dari ludah harum cintaMu Ya Habib! Itupun kadang aku lalai dan lupa atau malah melalaikan dari yang telah Engkau anugerahkan.
Maafkan hambaMu ini Ya Allah... Karena hanya Engkaulah yang Maha Pemaaf.
Sesungguhnya semua yang kita miliki ini hanya pinjaman, pinjaman dari pemilik kita, yang suatu saat harus dikembalikan. Dikembalikan apa yang dipinjamkan kita tentu saja harus utuh jangan sampai rusak, oleh karena itu kita wajib menjaga dan memeliharanya.
Mari kita segera bertobat, mumpung pintu tobat Allah yang Maha Pemurah masih terbuka lebar...
Karena kita adalah makluk yang sangat kecil dan tak berarti apa-apa dihadapanNya.
Semoga kita kembali ke jalan yang benar.
Amin Yaa Allah Yaa Rabbal Aalamiin...
***
Wallahu A’lam...
Bandung, 22 Agustus 2005
:manusia, makhluk hina dina fakir papa
"Bacalah!, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"
(Al-Alaq :1)
Jangan sekali-kali membaca ayat-ayat yang tertulis dan nampak dihadapan kita tanpa menyertakan pemilik kita, Allah Subhanahu Wataala.
Manusia, adalah makhluk Allah Swt. yang lebih kecil dari atom yang dibagi sejuta, bahkan lebih kecil lagi, coba kita bagi sejuta lagi. Tak ada yang berarti dari yang namanya manusia dihadapan Allah Azza Wazala.
Kita hanya mampu "meminjam" dari sebagian kecil bahkan sangat kecil dan tak berarti apapun bagi Allah Swt. yang menempel pada diri kita. Betapa terhina dan tidak berartinya kita di hadapan Allah Swt. Untuk menembus pengetahuan pun, kita hanya mampu meminjam.
Baiklah, kita pinjam yang paling besar manfaatnya dan berarti dalam hidup kita. Kita meminjam milik Allah Subhanahu Wataala yaitu otak yang mengolah fikiran.
Kita fikirkan dan bayangkan bahwa alam semesta ini sebesar kotak sabun. Diumpamakan bentuk kotak sabun karena manusia belum dan tak akan pernah menemukan bentuk dan ukuran alam raya ciptaan Allah Subhanahu Wataala ini. Yang mampu menduga hanyalah daya khayal, imajinasi dari yang dipinjamkan Allah Subhanahu Wataala pada kita.
Sekalipun teknologi tercanggih yang saat ini dapatkan, jangankan menembus, mengukur, menelusuri, menjelajahi, melihat atau katakanlah membayangkan saja, kita sungguh sangat terbatas!. Dengan demikian kita begitu bodoh dan sedikit pengetahuan tentang alam raya yang sangat luas ini. Dan kita hanya mampu membayangkan saja, walaupun itu didapat dari pinjaman Allah Swt.
Semoga Allah Swt. meridhai apa yang kita pinjam. Sesuai dengan janjiNya, bahwa Allah Swt. ridha jika kita sebagai hambaNya pun ridha, ridha dalam arti manfaat sesuai yang diperintahkan bukan kesewenang-wenangan.
Kita pinjam perumpamaan jagat raya ini dengan segenggam bentuk kotak sabun. Kita tatap kotak sabun dihadapan kita diatas meja. Kita perbesar dengan kemampuan penghayatan dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali! maka kita temukan jutaan galaksi.
Galaksi, kumpulan bintang-bintang yang berjumlah jutaan atau milyaran. Yang berkelip dan berkedip-kedip. Kedipan yang dapat disaksikan lebih dekat dari kemampuan teknologi tercanggih saat ini (contoh dengan teleskop terbesar dunia buatan AS, Hale yang berdiameter 508 cm) ternyata berjarak jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya sama dengan 5.9 Mil x 1012 atau 300.000km/detik!. Bayangkan dengan kecepatan teknologi manusia saat ini yang hanya mampu mencapai 2, 3 atau 5 mach! (kecepatan suara, 1 mach sama dengan ± 800 km/jam).
Kita perbesar lagi kumpulan galaksi tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jutaan galaksi yang ada, kita baru mengenal temuan dan praduga ilmuwan dengan nama galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti adalah sebuah kumpulan dari bintang-bintang yang masing-masing mempunyai satelit atau pengekor. Atau agar lebih akrab kita sebut dengan sebutan sekumpulan keluarga bintang.
Kita perbesar lagi kumpulan keluarga bintang tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jutaan bintang, satu bintang yang kita kenal dan paling dekat juga memberi salah satu unsur sumber kehidupan yaitu Matahari. Matahari, dengan garis tengah ± 1.4 juta km dan besarnya ±1.3 juta besar bumi. Satu kali berputarnya matahari pada galaksi selama ± 225 milyar tahun. Mempunyai 9 planet yakni; Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto.
Kita perbesar lagi kumpulan planet yang sembilan tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari sembilan planet yang kita kenal, kita adalah salah satu penghuni satu dari sembilan planet tadi, yaitu bumi. Susunan ketiga dari sembilan planet matahari yang kita kenal. Satu-satunya benda langit yang memiliki banyak air dan oksigen pada permukaannya. Yang terbentuk sekitar 4.5 milyar tahun lalu (Manusia hanya berumur rata-rata 60-70 tahun!). Dengan penghuni yang namanya manusia saat ini berjumlah ± 6 milyar orang. Entah berapa banyak jumlah makhluk lainnya. Sebuat saja nyamuk, belalang, ayam, burung juga makhluk Allah Swt yang berupa bakteri yang tidak tampak yang ada ditiap-tiap manusia.
Kita perbesar lagi kumpulan makluk hidup yang berjumlah milyaran tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jumlah yang tidak terhitung itu, kita akan menemukan dua makluk hina dina fakir papa, yang tak mampu apa-apa, yang hanya mengandalkan sedikit saja kekuasaan Allah Subhanahu Wataala, yaitu aku dan kamu.
Dua makluk Allah Swt. ini begitu tidak berarti. Jangankan dihadapan Allah Swt. yang tidak ada tandingan dengan makhlukNya, dengan makhluk ciptaanNya saja kita tidak dapat membandingkan. Jangankan dengan makhluk yang baik atau sholeh, dengan yang jahat saja kita tidak sebanding apa-apa. Hanya kekuatan Allah Swt. yang dapat menggerakkan dan menaik-turunkan derajat kita. Firaun, yang tercatat dalam Al-Quran sebagai manusia laknat yang dicontohkan Allah Swt., jauh lebih kaya dan lebih berkuasa dibanding aku dan kamu!
Apa yang kita niat sombongkan? Harta? Tahta? Harga diri? sungguh! tidak berarti apa-apa.
Allahu Akbar!!!
Menangis sampai matipun tidak dapat menebus apa yang kita niat sombongkan. Hanya niatan saja!, apalagi yang pernah kita lakukan. Begitu juga dengan kelalaian dan dosa-dosa yang pernah kita perbuat.
Allahu Akbar!!!,
Hanya orang-orang yang berimanlah yang beruntung!
Iman kepada Allah Swt., mengharap ampunanNya adalah perintah pemilik jagat raya yang sangat luas ini. Sebuah perintah yang sangat "kecil" dan tidak berarti dihadapanNya, tapi begitu berat kita memikulnya.
Bacalah!, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
Membaca alam dan menafakuri ciptaanNya adalah sebuah bentuk ibadah, bagian dari pengabdian kepada Allah Swt. Bisa juga dikategorikan dzikrullah, mengingat Allah Swt. Karena manusia sangatlah terbatas, sebagai panduan kita untuk mengenalNya ialah dengan mengenal ciptaanNya. Hasil karya Allah Swt. beserta instrumen yang ada didalamnya. Karena ayat-ayat Allah Swt. itu sangat luas. Seperti perbandingan air yang menetes adalah ilmu yang kita semua miliki, dengan samudera yang sangat luas. Sungguh tidak berarti apa-apa sesuatu yang kita ketahui melainkan sedikit saja.
Membaca karya agung Allah Swt, seperti gunung tinggi, laut lepas, langit biru dan alam lainnya. Juga instrument pendukungnya atau malah perusaknya, sebut saja hewan, binatang, tumbuhan dan manusia, aku dan kamu. Laki-laki dan perempuan, saling mempelajari, memahami sifat-sifat baiknya, mengikuti apa yang baik disarankannya, menjauhi dan melarang keburukan yang dilakukannya adalah bentuk dzikrullah.
Semut yang kecil pun berdzikir pada Allah Swt, menembangkan nama Tuhan, maka kita jaga tasbihnya, kita pertahankan kekhusuannya di malam gelap, di siang sibuk, atau dilelah sangat. karena waktu-waktu itulah kita harus mengingat Allah Swt.
Dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman: Dan beribadahlah kamu disela-sela kesibukanmu maka akan Aku cabut kefakiran pada dirimu. Jika tidak, maka Aku akan buat kalian sibuk tetapi tidak akan Aku cabut kefakiran atas dirimu.
Fakir, bukan saja dalam arti materi tetapi bisa juga dalam arti non materi seperti rasa resah, panik, takut miskin, merasa kurang, do’a susah terkabul dll., adalah bentuk kefakiran yang mungkin Allah Swt. terapkan pada kita, hingga suatu waktu kita merenungi langkah-langkah yang telah kita perbuat dan senantiasa bertobat memohon ampunanNya serta mengharap ridha dan kasih sayangNya.
Wa anal-faqir! Wa nahna-l fuqara! Dan aku hanya hamba hina-dina, fakir-papa yang masih mencoba berjuang dan terus belajar dari keterpaksaan dan kesabaran, kesempitan dan kelapangan untuk sekedar memperoleh secipratan saja dari ludah harum cintaMu Ya Habib! Itupun kadang aku lalai dan lupa atau malah melalaikan dari yang telah Engkau anugerahkan.
Maafkan hambaMu ini Ya Allah... Karena hanya Engkaulah yang Maha Pemaaf.
Sesungguhnya semua yang kita miliki ini hanya pinjaman, pinjaman dari pemilik kita, yang suatu saat harus dikembalikan. Dikembalikan apa yang dipinjamkan kita tentu saja harus utuh jangan sampai rusak, oleh karena itu kita wajib menjaga dan memeliharanya.
Mari kita segera bertobat, mumpung pintu tobat Allah yang Maha Pemurah masih terbuka lebar...
Karena kita adalah makluk yang sangat kecil dan tak berarti apa-apa dihadapanNya.
Semoga kita kembali ke jalan yang benar.
Amin Yaa Allah Yaa Rabbal Aalamiin...
***
Wallahu A’lam...
Bandung, 22 Agustus 2005
Cerpen PUTSAK
Terjungkal
I
Adalah Risa Lucia Dewi, mantan karyawati salah satu toko pakaian di ITC Kebon kalapa. Sudah seminggu terakhir meninggalkan supermarket tersebut untuk pindah kerja ke sebuah pabrik coklat di Bandung Selatan. Kepindahannya menumbuhkan berbagai luka hati yang diderita sesama karyawan disekitar tokonya tempat ia bekerja. Rasa sedih, kehilangan, rindu, takut dan segala macam kepanikan lainnya mulai menghantui beberapa karyawan. Terutama mereka yang masih “sendiri”, atau mengaku masih sendirian padahal semua orang tahu bujang-bujang palsu yang gentayangan di pertokoan itu sudah punya isteri dan anak.
“Sibuk banget sih hari ini Uni, kapan ada karyawan baru lagi?” tanya Romad, seorang bujangan keturunan campuran padang-arab. Si Uni hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian berlanjut melayani pembeli.
Romad atau Romeo nama panggilan teman-temannya di supermarket, nama aslinya Rosyid Munahar. Sudah hampir tiga tahun kerja di toko kakaknya sekaligus mengurusnya, mempunyai karyawan tiga orang laki-laki yang selalu dipaksanya untuk mengakui bahwa dialah kekasih Risa yang jadi incarannya. Dia juga yang paling merasakan kehilangan atas kepergiannya pindah kerja, sejak pertama mengenal gadis tersebut, diam-diam rasa cemburu yang tertanam dihatinya kadang meledak tidak karuan. Tidak! Siapa kamu? Ada urusan apa dengan dia? adalah ceramah yang paling sering dilontarkan pada orang yang bertemu dengan gadis incarannya itu jika kumat rasa cemburunya. Pernah sekali waktu memaki pembeli di toko Risa ketika si pelanggan mengobrol dengan Risa tentang ini itu yang tidak ada kaitannya dengan barang-barang ditokonya. Sedangkan Risa sendiri, tak pernah membedakan siapa saja yang mengajaknya bicara selalu dihadapi dengan ceria, sopan dan hangat. Begitu pula kepada Romad, Ia hanya tersenyum dan berucap pelan menerangkan bahwa bagaimanapun mereka adalah pelanggan dan dia harus melayaninya dengan baik. Bagi Romad, seyuman walau sekali itulah yang membuat marahnya langsung sirna.
Semua yang mengenalnya setuju bahwa Risa gadis baik dan santun, tak pernah ada kabar jalan bareng laki-laki sewaktu berangkat atau pulang kerja. Paling banter ada juga kakaknya yang kebetulan kerja di restoran di sekitar Kebon Kelapa. Dan semua pun setuju, setiap laki-laki baik bujangan maupun yang palsu akan “keblinger” melihat sosok dan wajahnya. Hal ini diakui tidak juga oleh pengincar cinta, melainkan ibu-ibu atau gadis sebayanya pun berpendapat sama.
Tetapi yang lebih menarik dan mungkin pertanyaan seluruh kaum adam adalah siapakah gerangan yang akan, telah, sedang mendapatkan anugerah yang indah ini? Pemuda orang manakah dia? Seganteng apakah dia? kerja dimana dan sejauhmana hubungannya, tak ada yang tahu, kabar terakhir yang diterima penggoda iseng tentangnya selalu mengatakan bahwa dia belum punya pacar, Wow! Sungguh sebuah kesempatan pemburu cinta yang tidak boleh disia-siakan.
Risa adalah keturunan sunda-padang yang dibawa urban ke tanah Jawa oleh orang tuanya sejak dia kelas empat SD, kepindahannya ke tanah Jawa untuk mencari hidup baru karena ayahnya yang semula sebagai boss kredit barang kelontongan di Payakumbuh tidak bisa lagi melanjutkan aktifitasnya karena sakit-sakitan. Sebelum ke Bandung, dia dan kakaknya sempat tinggal di Jambi selama empat tahun numpang tinggal di pamannya yang seorang jaksa di kota Jambi. Dia sekolah hanya sampai SMA di Bandung, setelah tamat sekolah kemudian langsung bekerja di Uni Tika yang kebetulan teman lama ibunya. Sering pindah-pindah tempat yang dilakukan orangtuanya membuat Risa dirindukan kawan-kawannya baik semasa sekolah maupun sahabat kecilnya di Payakumbuh dan di Jambi.
Dia bekerja di Uni Tika selama lebih dari dua tahun, pengabdiannya di Uni Tika telah menjadikan toko tersebut ramai dikunjungi pembeli, tentu saja dengan berbagai maksud dan tujuan. Ada yang memang butuh pakaian dan membelinya ataupun membeli pakaian dengan berbagai “misi” yang diembannya. Kabar dari Uni Tika menerangkan bahwa yang datang ke tokonya selalu di sisipi pesan tentang Risa, apa ibu-ibu yang cerita tentang anaknya yang sukses dan membutuhkan calon pendamping yang baik dan santun ataupun pemuda yang sebelumnya belanja dengan pacarnya dan di suatu hari kemudian belanja lagi sendirian dan mencari tahu tentang gadis karyawannya. Sungguh dibuat cemburu setiap karyawan yang setiap hari bertemu dengannya.
Lain lagi hari-hari kedepan ini, suasana di sekitar blok C pertokoan itu tidak seperti sebelumnya. Ngerumpi tentang Risa adalah hal yang paling menarik diantara kekosongan pelanggan yang datang. Tentu saja dengan bumbu-bumbu yang menumbuhkan rindu yang paling kuat antar pesaingnya. Persaingan yang tak pernah dilombakan. Persaingan yang berkompetisi dengan sangka dan harapan. Atau ada juga seorang pemuda yang malah menyendiri sambil sesekali memandang kosong ke jendela luar dekat eskalator, senyum sedikit kemudian menggaruk-garuk kepala. Ada juga setelah kepergian Risa malah belum masuk kerja sampai berhari-hari. Beberapa informasi menyebutkan orang tersebut pemuda yang dikatakan paling ganteng di blok itu sedang sakit dan dirawat dirumahnya dengan penyakit yang tidak jelas.
Adapula yang malah menghangatkan rasa rindu dengan hentakan yang menarik jantung para bujang dan bujangan palsu Blok C.
“Tuh, ada Risa...!” Bang Fadli memecah suasana sambil menatap ke jendela luar supermarket.
“Mana?” hampir berbarengan.
“Lagi jalan-jalan”
“Dimana?” Semua tertuju ke tatapan Bang Fadli.
“Ya, dirumahnya Dong.. Ha.. Ha.. Ha..”
“Ah, Si Abang...”
Demikian dengan hari-hari yang dilalui di Blok C selanjutnya, paling tidak satu dua orang diantara penghuni blok tersebut selalu mengaitkan obrolannya dengan gadis yang sudah meninggalkan teman-teman seperjuangannya. *** (bersambung)
I
Adalah Risa Lucia Dewi, mantan karyawati salah satu toko pakaian di ITC Kebon kalapa. Sudah seminggu terakhir meninggalkan supermarket tersebut untuk pindah kerja ke sebuah pabrik coklat di Bandung Selatan. Kepindahannya menumbuhkan berbagai luka hati yang diderita sesama karyawan disekitar tokonya tempat ia bekerja. Rasa sedih, kehilangan, rindu, takut dan segala macam kepanikan lainnya mulai menghantui beberapa karyawan. Terutama mereka yang masih “sendiri”, atau mengaku masih sendirian padahal semua orang tahu bujang-bujang palsu yang gentayangan di pertokoan itu sudah punya isteri dan anak.
“Sibuk banget sih hari ini Uni, kapan ada karyawan baru lagi?” tanya Romad, seorang bujangan keturunan campuran padang-arab. Si Uni hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian berlanjut melayani pembeli.
Romad atau Romeo nama panggilan teman-temannya di supermarket, nama aslinya Rosyid Munahar. Sudah hampir tiga tahun kerja di toko kakaknya sekaligus mengurusnya, mempunyai karyawan tiga orang laki-laki yang selalu dipaksanya untuk mengakui bahwa dialah kekasih Risa yang jadi incarannya. Dia juga yang paling merasakan kehilangan atas kepergiannya pindah kerja, sejak pertama mengenal gadis tersebut, diam-diam rasa cemburu yang tertanam dihatinya kadang meledak tidak karuan. Tidak! Siapa kamu? Ada urusan apa dengan dia? adalah ceramah yang paling sering dilontarkan pada orang yang bertemu dengan gadis incarannya itu jika kumat rasa cemburunya. Pernah sekali waktu memaki pembeli di toko Risa ketika si pelanggan mengobrol dengan Risa tentang ini itu yang tidak ada kaitannya dengan barang-barang ditokonya. Sedangkan Risa sendiri, tak pernah membedakan siapa saja yang mengajaknya bicara selalu dihadapi dengan ceria, sopan dan hangat. Begitu pula kepada Romad, Ia hanya tersenyum dan berucap pelan menerangkan bahwa bagaimanapun mereka adalah pelanggan dan dia harus melayaninya dengan baik. Bagi Romad, seyuman walau sekali itulah yang membuat marahnya langsung sirna.
Semua yang mengenalnya setuju bahwa Risa gadis baik dan santun, tak pernah ada kabar jalan bareng laki-laki sewaktu berangkat atau pulang kerja. Paling banter ada juga kakaknya yang kebetulan kerja di restoran di sekitar Kebon Kelapa. Dan semua pun setuju, setiap laki-laki baik bujangan maupun yang palsu akan “keblinger” melihat sosok dan wajahnya. Hal ini diakui tidak juga oleh pengincar cinta, melainkan ibu-ibu atau gadis sebayanya pun berpendapat sama.
Tetapi yang lebih menarik dan mungkin pertanyaan seluruh kaum adam adalah siapakah gerangan yang akan, telah, sedang mendapatkan anugerah yang indah ini? Pemuda orang manakah dia? Seganteng apakah dia? kerja dimana dan sejauhmana hubungannya, tak ada yang tahu, kabar terakhir yang diterima penggoda iseng tentangnya selalu mengatakan bahwa dia belum punya pacar, Wow! Sungguh sebuah kesempatan pemburu cinta yang tidak boleh disia-siakan.
Risa adalah keturunan sunda-padang yang dibawa urban ke tanah Jawa oleh orang tuanya sejak dia kelas empat SD, kepindahannya ke tanah Jawa untuk mencari hidup baru karena ayahnya yang semula sebagai boss kredit barang kelontongan di Payakumbuh tidak bisa lagi melanjutkan aktifitasnya karena sakit-sakitan. Sebelum ke Bandung, dia dan kakaknya sempat tinggal di Jambi selama empat tahun numpang tinggal di pamannya yang seorang jaksa di kota Jambi. Dia sekolah hanya sampai SMA di Bandung, setelah tamat sekolah kemudian langsung bekerja di Uni Tika yang kebetulan teman lama ibunya. Sering pindah-pindah tempat yang dilakukan orangtuanya membuat Risa dirindukan kawan-kawannya baik semasa sekolah maupun sahabat kecilnya di Payakumbuh dan di Jambi.
Dia bekerja di Uni Tika selama lebih dari dua tahun, pengabdiannya di Uni Tika telah menjadikan toko tersebut ramai dikunjungi pembeli, tentu saja dengan berbagai maksud dan tujuan. Ada yang memang butuh pakaian dan membelinya ataupun membeli pakaian dengan berbagai “misi” yang diembannya. Kabar dari Uni Tika menerangkan bahwa yang datang ke tokonya selalu di sisipi pesan tentang Risa, apa ibu-ibu yang cerita tentang anaknya yang sukses dan membutuhkan calon pendamping yang baik dan santun ataupun pemuda yang sebelumnya belanja dengan pacarnya dan di suatu hari kemudian belanja lagi sendirian dan mencari tahu tentang gadis karyawannya. Sungguh dibuat cemburu setiap karyawan yang setiap hari bertemu dengannya.
Lain lagi hari-hari kedepan ini, suasana di sekitar blok C pertokoan itu tidak seperti sebelumnya. Ngerumpi tentang Risa adalah hal yang paling menarik diantara kekosongan pelanggan yang datang. Tentu saja dengan bumbu-bumbu yang menumbuhkan rindu yang paling kuat antar pesaingnya. Persaingan yang tak pernah dilombakan. Persaingan yang berkompetisi dengan sangka dan harapan. Atau ada juga seorang pemuda yang malah menyendiri sambil sesekali memandang kosong ke jendela luar dekat eskalator, senyum sedikit kemudian menggaruk-garuk kepala. Ada juga setelah kepergian Risa malah belum masuk kerja sampai berhari-hari. Beberapa informasi menyebutkan orang tersebut pemuda yang dikatakan paling ganteng di blok itu sedang sakit dan dirawat dirumahnya dengan penyakit yang tidak jelas.
Adapula yang malah menghangatkan rasa rindu dengan hentakan yang menarik jantung para bujang dan bujangan palsu Blok C.
“Tuh, ada Risa...!” Bang Fadli memecah suasana sambil menatap ke jendela luar supermarket.
“Mana?” hampir berbarengan.
“Lagi jalan-jalan”
“Dimana?” Semua tertuju ke tatapan Bang Fadli.
“Ya, dirumahnya Dong.. Ha.. Ha.. Ha..”
“Ah, Si Abang...”
Demikian dengan hari-hari yang dilalui di Blok C selanjutnya, paling tidak satu dua orang diantara penghuni blok tersebut selalu mengaitkan obrolannya dengan gadis yang sudah meninggalkan teman-teman seperjuangannya. *** (bersambung)
Ketik Semua Ini
Mei-Juni ‘05
sajak-sajak negeri cinta
Maafkan daku sayang
Aku bukan maniak cinta…
Setiap kali aku menjelma arjuna, ragaku penuh pesona, melantunkan syair cinta di setiap dermaga, tapi entah dimana perahu asaku kandas. Padahal aku tertegun pada raut mukamu yang tanpa make up & gincu.
Setiap aku menjelma rahwana, hitam kelam pesonaku pudar tak bergairah, tetap saja menyimpan dendam pada ketulusan dan takdir. Mengumpat asap yang membumbung di ujung kapal yang berlayar entah kemana.
Hitam putih ku terus melingkari keadaan pada semua yang aku inginkan.
Pada apapun yang terus melangkahi nasib dengan keinginan.
Tertuju pada pola batin yang terhalang janji dan prasangka.
Hingga suatu masa kutemukan jalan mana memandu hati yang kelak tampak sebuah jembatan, menerjunkan air dipekarangan senja hari.
Pulanglah! Kata si pemilik perkutut itu, sirami kemboja dengan do’a.
Tiba-tiba teng! sekali, membuyarkan tatapanku yang larut dalam tanya seseorang:
Akankah aku terus disini, digorong-gorong negeri kapitalis….
Entahlah…
KETIKA BURUNG YANG KUTEMUKAN TIBA-TIBA TERBANG
Mungkin pertemuan kita adalah sebuah episode yang terus membawa alur cerita lain, pada sebuah kenyataan dimana kau telah mengakui keberadaan hidupmu di suatu sejarah paling rahasia. Tak ada kepastian yang menancap dihatiku yang membuat aku terhenti untuk melukai diri atau terus memburu palung hatimu yang pernah aku kunjungi.
Dan ketika persimpangan terbentuk oleh janji yang sudah kau bangun, membuat tercipta sebuah kesedihan dan harapan diujung jalan yang akan masing-masing lalui.
Tapi aku belum mampu untuk mengakui bahwa kau tak pernah mengingatku dalam keadaan sadar dimana keinginan menunggu seperti sebuah umbul-umbul atau bendera negeri yang asing.
Sebuah alamat yang akan menjadi petunjuk hatimu telah aku bangun dan siap didengungkan pada suatu waktu yang sunyi. Aku tak mau kita menderita…
Satu yang aku inginkan ketika sesuatu terjadi bahwasannya kita harus selamanya bahagia, dan kebahagiaan itulah yang menuntun pada kebijakan dan arah dari perjalanan abadi menuju janji yang telah kita ucapkan.
Mungkin kita harus belajar lagi tentang sebuah negeri yang murung mengantar kita untuk bertemu di suatu masa yang tak pernah dimimpikan. Atau sebuah takdir yang mesti terjadi inilah yang kan membawa kita menyambung cerita dari setiap keadaan yang telah lama berubah hingga pada mimpi-mimpi yang kita lalui.
Sejauh mana kebahagian kita kala menderita dan berjuang keras untuk terus keluar dari malapetaka? Atau sejauh mana kebahagian kita kala mendapat cobaan keceriaan dan harapan yang telah kita nikmati?
Maka sejauh itulah kebijakan yang kita dapatkan sehingga hitam-putih lembaran cerita kita dapat bertahan.
:: ..., .., .
Hanya satu dari sejuta kenyataan dari perasaan yang
membawa, menelusuri,
mengepung pikiranku hingga aku terus seperti ini.
Biarkan asmaraku membatu,
menjadi sebuah tugu yang berdiri ditengah persimpangan jalan,
dari sebuah siklus kehidupan pada awal musim dimana bunga bermekaran dan kumbang bertebaran.
Adalah bagian kecil dari rona wangi kesombongan manusia
yang membakar dirinya dengan rasa yang tertanam dalam dada insan ciptaanMu,
atau sebuah ego mematahkan janji yang diragukan seseorang dan mencobanya untuk dibuang, atau dilupakan dengan terpaksa.
Sesosok bayangan mengendap & menikam ketulusan. Pada pergeseran waktu yang tak pernah diduganya.
Berabad-abad lalu aku tak pernah memikirkan luapan ombak ini,
begitu sesak...
Mimpi-mimpi
Sayang, jika kau tanya tentang apa yang aku inginkan dari calon pendamping hidupku? Aku tetap menjawab seperti dulu, seperti saat aku merenung tentang the future. Lima, sepuluh atau limabelas tahun lalu, tak pernah berubah.
Saat aku masih melangkah diparit sawah sepulang sekolah, dengan dasi merah dan sepatu yang digantung ke dada. Atau saat melewati pasar ikan, menyusuri pertokoan dan melintasi terminal hingga tasku yang jumbo bau amis. Atau saat menunggu bis dijembatan dengan rokok dua batang yang satu setia didompet dan satu lagi berkorban dihisap dan dibuang. Atau ketika kemping dilembah yang sunyi sambil membakar api unggun dengan sarung ditubuh. Atau ketika menyelesaikan sisa pekerjaan paling sulit dari format desain yang sudah ditunggu untuk presentasi hari esok. Atau ketika terbangun dari mimpi tentang burung yang hinggap di pundak dan tiba-tiba lepas. Atau ketika seorang klien yang berjanji untuk setia pada penawarannya tentang kehidupanku. Ataupun ….
Pun jika tetap seperti yang aku inginkan tidak harus seperti yang aku targetkan, sebab target telah melanggar HAM, malah kadang menjadi sebuah pemaksaan.
Tapi banyak yang tidak kapok dengan target, padahal seharusnya dia sudah dipenjara seumur hidup, atau dihukum pancung sebab sudah layak dan sesuai dengan yang didakwakan...
A Short Message
Pagi itu kutemukan pecahan kaca,
terinjak-injak dengan sabar.
Memandangi wajahnya yang murung
atau tertawa terbahak,
kemudian melupakannya.
Janji?
Tak ada yang salah dari sebuah pengakuan, jika itu suatu ketulusan, kebetulan atau kebohongan atau apapun namanya hak seorang manusia tetap ada pada dirinya. Janji, yang membuat seseorang terjerat hutang, hutang yang membuat orang sengsara…
Tapi ketahuilah, hutang dapat terbayar dengan janji (tapi bukan berarti membayar hutang dengan janji lho!)
Janji hanya bagian dari proses, atas sebuah kesungguhan dalam melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan. Sehingga tercipta dua akibat yang “membereskan” perjalanan dari sebuah janji, ampunan dan ancaman.
Tetapi bukankah Tuhan Maha menepati Janji? Ya, tak ada yang menyangkal dengan janji Tuhan, kecuali memang tidak percaya sama sekali dengan Tuhan.
Dan itu akan diselesaikan dengan sekaligus, sebuah timbal balik atas perilaku yang tidak percaya akan keberadaan-Nya, baik dan buruknya mereka akan terbayar saat mereka menjalaninya.
Tapi sebuah kunci “perjalanan” selanjutnya akan tertutup bagi mereka yang tidak mengakui-Nya. Dan begitupula janji Tuhan, kelak akan dibalas mereka yang tidak mempercayai-Nya atas ketidak akuannya.
Sebuah perjalanan manusia yang sangat pendek yang tergaris dalam lingkaran waktu yang bernama dunia telah membuat manusia memilih alur hidupnya atas dasar Naluri dan keilmuan. Yang terbentuk dari suatu keinginan, yang memutar berbagai poros lahir & batin
sehingga tercipta multipolar sebuah akhir dari sebuah penilaian manusia. Akhir dalam arti ketidak kekalan, akhir adalah bagian dari sesuatu yang mengikat dalam suatu apapun namanya.
Maaf, HAMBA Ketuk PINTU-Mu
Adalah karena Engkau yang membawaku kemari, untuk hidup dalam gegap gempita kota yang hampir metropolitan, yang merupakan medan perjuanganku dalam bertarung ditengah keputus-asaan. Medan kekonyolan dan kesombongan. Sebuah negeri yang pantas ditertawakan, terlahir dari berbagai keinginan dan harapan setiap insan. Atau medan ketersesatan dan keterperosokan hingga luka menganga pun cinta terpana.
Wa anal-faqir! Wa nahna-l fuqara! Dan aku hanya hamba hina-dina, fakir-papa yang masih mencoba berjuang dan terus belajar dari keterpaksaan dan kesabaran, kesempitan dan kelapangan untuk sekedar memperoleh secipratan saja dari ludah harum cintaMu Ya Habib! Itupun kadang aku lalai dan lupa atau malah melalaikan dari yang telah Engkau anugerahkan.
Tetapi akupun akan terus dan terus berharap untuk tidak bertepuk sebelah tangan dari cintaMu. Dan aku harus berjuang keras untuk mendekati Engkau Ya Rabb! Lebih dekat, dekat hingga kedekatan menyambar jarak lebih dari urat leherku!
Sekarang aku masih mencari, menanti arti petunjukMu, tentang episode kasih sayang yang tertanam pada jiwaku, yang telah Engkau takdirkan lewat kekuasan tiada banding. Aku kadang menjauh dari Engkau yang maha tahu akan setiap isyarat hatiku, hingga Engkau pun menjauh seperti yang dijanjikan.
Aku tetap berharap dia siap bahagia! dalam menelusuri peta kasih sayangMu. Kebahagiaan dalam menghadapi penderitaan dan kepedihan, juga kesenangan dan keceriaan. Kebahagiaan yang senantiasa menyelamatkan hamba-hambaMu dari kegelapan dan kefanaan medan juang ini.
Adakah dia sanggup menerimanya, Wallahu A’lam
Dinding
I
Redamkan kehampaan batinku dari lubuk hatimu aku terkesima,
sadar ketika malam-malam yang aku lalui semakin bodoh.
Dinding itu yang begitu tinggi,
Hingga aku terus menatap ke awan sambil sesekali terlihat engkau melintas.
Ah, tapal batas ini menggodaku!
Untuk sesekali aku bongkar dan aku cari celah yang paling sunyi.
Kadang aku tak sabar dengan kodrat setiap insan,
untuk aku pupuk dan tanami taman indah dipekarangan kita
tapi dinding itu yang begitu tinggi, neng!
Mengakhirkan selamat pagi pada embun di ruang batin ini.
II
Tiba-tiba kau meliuk dan mengejar teman, teman-teman atau sahabat kecilmu
Masih disini malam ini,
Begitu setia mendatangi kalimat-kalimat surgawi
Atau ayat syahdu dari do’a suci bunda
Sayang, tak kuasa aku melihat engkau begitu ceria disuatu malam tanpa purnama
Hingga aku begitu ngiri dengan kemampuanmu.
Hanya sayang,
hanya ada didirimu
(27) 320878 - 1905
Virgian in solitude,
Silent,
Lonely,
My self.
Ferfect in track of years...
sajak-sajak negeri cinta
Maafkan daku sayang
Aku bukan maniak cinta…
Setiap kali aku menjelma arjuna, ragaku penuh pesona, melantunkan syair cinta di setiap dermaga, tapi entah dimana perahu asaku kandas. Padahal aku tertegun pada raut mukamu yang tanpa make up & gincu.
Setiap aku menjelma rahwana, hitam kelam pesonaku pudar tak bergairah, tetap saja menyimpan dendam pada ketulusan dan takdir. Mengumpat asap yang membumbung di ujung kapal yang berlayar entah kemana.
Hitam putih ku terus melingkari keadaan pada semua yang aku inginkan.
Pada apapun yang terus melangkahi nasib dengan keinginan.
Tertuju pada pola batin yang terhalang janji dan prasangka.
Hingga suatu masa kutemukan jalan mana memandu hati yang kelak tampak sebuah jembatan, menerjunkan air dipekarangan senja hari.
Pulanglah! Kata si pemilik perkutut itu, sirami kemboja dengan do’a.
Tiba-tiba teng! sekali, membuyarkan tatapanku yang larut dalam tanya seseorang:
Akankah aku terus disini, digorong-gorong negeri kapitalis….
Entahlah…
KETIKA BURUNG YANG KUTEMUKAN TIBA-TIBA TERBANG
Mungkin pertemuan kita adalah sebuah episode yang terus membawa alur cerita lain, pada sebuah kenyataan dimana kau telah mengakui keberadaan hidupmu di suatu sejarah paling rahasia. Tak ada kepastian yang menancap dihatiku yang membuat aku terhenti untuk melukai diri atau terus memburu palung hatimu yang pernah aku kunjungi.
Dan ketika persimpangan terbentuk oleh janji yang sudah kau bangun, membuat tercipta sebuah kesedihan dan harapan diujung jalan yang akan masing-masing lalui.
Tapi aku belum mampu untuk mengakui bahwa kau tak pernah mengingatku dalam keadaan sadar dimana keinginan menunggu seperti sebuah umbul-umbul atau bendera negeri yang asing.
Sebuah alamat yang akan menjadi petunjuk hatimu telah aku bangun dan siap didengungkan pada suatu waktu yang sunyi. Aku tak mau kita menderita…
Satu yang aku inginkan ketika sesuatu terjadi bahwasannya kita harus selamanya bahagia, dan kebahagiaan itulah yang menuntun pada kebijakan dan arah dari perjalanan abadi menuju janji yang telah kita ucapkan.
Mungkin kita harus belajar lagi tentang sebuah negeri yang murung mengantar kita untuk bertemu di suatu masa yang tak pernah dimimpikan. Atau sebuah takdir yang mesti terjadi inilah yang kan membawa kita menyambung cerita dari setiap keadaan yang telah lama berubah hingga pada mimpi-mimpi yang kita lalui.
Sejauh mana kebahagian kita kala menderita dan berjuang keras untuk terus keluar dari malapetaka? Atau sejauh mana kebahagian kita kala mendapat cobaan keceriaan dan harapan yang telah kita nikmati?
Maka sejauh itulah kebijakan yang kita dapatkan sehingga hitam-putih lembaran cerita kita dapat bertahan.
:: ..., .., .
Hanya satu dari sejuta kenyataan dari perasaan yang
membawa, menelusuri,
mengepung pikiranku hingga aku terus seperti ini.
Biarkan asmaraku membatu,
menjadi sebuah tugu yang berdiri ditengah persimpangan jalan,
dari sebuah siklus kehidupan pada awal musim dimana bunga bermekaran dan kumbang bertebaran.
Adalah bagian kecil dari rona wangi kesombongan manusia
yang membakar dirinya dengan rasa yang tertanam dalam dada insan ciptaanMu,
atau sebuah ego mematahkan janji yang diragukan seseorang dan mencobanya untuk dibuang, atau dilupakan dengan terpaksa.
Sesosok bayangan mengendap & menikam ketulusan. Pada pergeseran waktu yang tak pernah diduganya.
Berabad-abad lalu aku tak pernah memikirkan luapan ombak ini,
begitu sesak...
Mimpi-mimpi
Sayang, jika kau tanya tentang apa yang aku inginkan dari calon pendamping hidupku? Aku tetap menjawab seperti dulu, seperti saat aku merenung tentang the future. Lima, sepuluh atau limabelas tahun lalu, tak pernah berubah.
Saat aku masih melangkah diparit sawah sepulang sekolah, dengan dasi merah dan sepatu yang digantung ke dada. Atau saat melewati pasar ikan, menyusuri pertokoan dan melintasi terminal hingga tasku yang jumbo bau amis. Atau saat menunggu bis dijembatan dengan rokok dua batang yang satu setia didompet dan satu lagi berkorban dihisap dan dibuang. Atau ketika kemping dilembah yang sunyi sambil membakar api unggun dengan sarung ditubuh. Atau ketika menyelesaikan sisa pekerjaan paling sulit dari format desain yang sudah ditunggu untuk presentasi hari esok. Atau ketika terbangun dari mimpi tentang burung yang hinggap di pundak dan tiba-tiba lepas. Atau ketika seorang klien yang berjanji untuk setia pada penawarannya tentang kehidupanku. Ataupun ….
Pun jika tetap seperti yang aku inginkan tidak harus seperti yang aku targetkan, sebab target telah melanggar HAM, malah kadang menjadi sebuah pemaksaan.
Tapi banyak yang tidak kapok dengan target, padahal seharusnya dia sudah dipenjara seumur hidup, atau dihukum pancung sebab sudah layak dan sesuai dengan yang didakwakan...
A Short Message
Pagi itu kutemukan pecahan kaca,
terinjak-injak dengan sabar.
Memandangi wajahnya yang murung
atau tertawa terbahak,
kemudian melupakannya.
Janji?
Tak ada yang salah dari sebuah pengakuan, jika itu suatu ketulusan, kebetulan atau kebohongan atau apapun namanya hak seorang manusia tetap ada pada dirinya. Janji, yang membuat seseorang terjerat hutang, hutang yang membuat orang sengsara…
Tapi ketahuilah, hutang dapat terbayar dengan janji (tapi bukan berarti membayar hutang dengan janji lho!)
Janji hanya bagian dari proses, atas sebuah kesungguhan dalam melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan. Sehingga tercipta dua akibat yang “membereskan” perjalanan dari sebuah janji, ampunan dan ancaman.
Tetapi bukankah Tuhan Maha menepati Janji? Ya, tak ada yang menyangkal dengan janji Tuhan, kecuali memang tidak percaya sama sekali dengan Tuhan.
Dan itu akan diselesaikan dengan sekaligus, sebuah timbal balik atas perilaku yang tidak percaya akan keberadaan-Nya, baik dan buruknya mereka akan terbayar saat mereka menjalaninya.
Tapi sebuah kunci “perjalanan” selanjutnya akan tertutup bagi mereka yang tidak mengakui-Nya. Dan begitupula janji Tuhan, kelak akan dibalas mereka yang tidak mempercayai-Nya atas ketidak akuannya.
Sebuah perjalanan manusia yang sangat pendek yang tergaris dalam lingkaran waktu yang bernama dunia telah membuat manusia memilih alur hidupnya atas dasar Naluri dan keilmuan. Yang terbentuk dari suatu keinginan, yang memutar berbagai poros lahir & batin
sehingga tercipta multipolar sebuah akhir dari sebuah penilaian manusia. Akhir dalam arti ketidak kekalan, akhir adalah bagian dari sesuatu yang mengikat dalam suatu apapun namanya.
Maaf, HAMBA Ketuk PINTU-Mu
Adalah karena Engkau yang membawaku kemari, untuk hidup dalam gegap gempita kota yang hampir metropolitan, yang merupakan medan perjuanganku dalam bertarung ditengah keputus-asaan. Medan kekonyolan dan kesombongan. Sebuah negeri yang pantas ditertawakan, terlahir dari berbagai keinginan dan harapan setiap insan. Atau medan ketersesatan dan keterperosokan hingga luka menganga pun cinta terpana.
Wa anal-faqir! Wa nahna-l fuqara! Dan aku hanya hamba hina-dina, fakir-papa yang masih mencoba berjuang dan terus belajar dari keterpaksaan dan kesabaran, kesempitan dan kelapangan untuk sekedar memperoleh secipratan saja dari ludah harum cintaMu Ya Habib! Itupun kadang aku lalai dan lupa atau malah melalaikan dari yang telah Engkau anugerahkan.
Tetapi akupun akan terus dan terus berharap untuk tidak bertepuk sebelah tangan dari cintaMu. Dan aku harus berjuang keras untuk mendekati Engkau Ya Rabb! Lebih dekat, dekat hingga kedekatan menyambar jarak lebih dari urat leherku!
Sekarang aku masih mencari, menanti arti petunjukMu, tentang episode kasih sayang yang tertanam pada jiwaku, yang telah Engkau takdirkan lewat kekuasan tiada banding. Aku kadang menjauh dari Engkau yang maha tahu akan setiap isyarat hatiku, hingga Engkau pun menjauh seperti yang dijanjikan.
Aku tetap berharap dia siap bahagia! dalam menelusuri peta kasih sayangMu. Kebahagiaan dalam menghadapi penderitaan dan kepedihan, juga kesenangan dan keceriaan. Kebahagiaan yang senantiasa menyelamatkan hamba-hambaMu dari kegelapan dan kefanaan medan juang ini.
Adakah dia sanggup menerimanya, Wallahu A’lam
Dinding
I
Redamkan kehampaan batinku dari lubuk hatimu aku terkesima,
sadar ketika malam-malam yang aku lalui semakin bodoh.
Dinding itu yang begitu tinggi,
Hingga aku terus menatap ke awan sambil sesekali terlihat engkau melintas.
Ah, tapal batas ini menggodaku!
Untuk sesekali aku bongkar dan aku cari celah yang paling sunyi.
Kadang aku tak sabar dengan kodrat setiap insan,
untuk aku pupuk dan tanami taman indah dipekarangan kita
tapi dinding itu yang begitu tinggi, neng!
Mengakhirkan selamat pagi pada embun di ruang batin ini.
II
Tiba-tiba kau meliuk dan mengejar teman, teman-teman atau sahabat kecilmu
Masih disini malam ini,
Begitu setia mendatangi kalimat-kalimat surgawi
Atau ayat syahdu dari do’a suci bunda
Sayang, tak kuasa aku melihat engkau begitu ceria disuatu malam tanpa purnama
Hingga aku begitu ngiri dengan kemampuanmu.
Hanya sayang,
hanya ada didirimu
(27) 320878 - 1905
Virgian in solitude,
Silent,
Lonely,
My self.
Ferfect in track of years...
Langganan:
Postingan (Atom)