Senin, 14 Januari 2008

Cerpen PUTSAK

Terjungkal

I
Adalah Risa Lucia Dewi, mantan karyawati salah satu toko pakaian di ITC Kebon kalapa. Sudah seminggu terakhir meninggalkan supermarket tersebut untuk pindah kerja ke sebuah pabrik coklat di Bandung Selatan. Kepindahannya menumbuhkan berbagai luka hati yang diderita sesama karyawan disekitar tokonya tempat ia bekerja. Rasa sedih, kehilangan, rindu, takut dan segala macam kepanikan lainnya mulai menghantui beberapa karyawan. Terutama mereka yang masih “sendiri”, atau mengaku masih sendirian padahal semua orang tahu bujang-bujang palsu yang gentayangan di pertokoan itu sudah punya isteri dan anak.

“Sibuk banget sih hari ini Uni, kapan ada karyawan baru lagi?” tanya Romad, seorang bujangan keturunan campuran padang-arab. Si Uni hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kemudian berlanjut melayani pembeli.

Romad atau Romeo nama panggilan teman-temannya di supermarket, nama aslinya Rosyid Munahar. Sudah hampir tiga tahun kerja di toko kakaknya sekaligus mengurusnya, mempunyai karyawan tiga orang laki-laki yang selalu dipaksanya untuk mengakui bahwa dialah kekasih Risa yang jadi incarannya. Dia juga yang paling merasakan kehilangan atas kepergiannya pindah kerja, sejak pertama mengenal gadis tersebut, diam-diam rasa cemburu yang tertanam dihatinya kadang meledak tidak karuan. Tidak! Siapa kamu? Ada urusan apa dengan dia? adalah ceramah yang paling sering dilontarkan pada orang yang bertemu dengan gadis incarannya itu jika kumat rasa cemburunya. Pernah sekali waktu memaki pembeli di toko Risa ketika si pelanggan mengobrol dengan Risa tentang ini itu yang tidak ada kaitannya dengan barang-barang ditokonya. Sedangkan Risa sendiri, tak pernah membedakan siapa saja yang mengajaknya bicara selalu dihadapi dengan ceria, sopan dan hangat. Begitu pula kepada Romad, Ia hanya tersenyum dan berucap pelan menerangkan bahwa bagaimanapun mereka adalah pelanggan dan dia harus melayaninya dengan baik. Bagi Romad, seyuman walau sekali itulah yang membuat marahnya langsung sirna.

Semua yang mengenalnya setuju bahwa Risa gadis baik dan santun, tak pernah ada kabar jalan bareng laki-laki sewaktu berangkat atau pulang kerja. Paling banter ada juga kakaknya yang kebetulan kerja di restoran di sekitar Kebon Kelapa. Dan semua pun setuju, setiap laki-laki baik bujangan maupun yang palsu akan “keblinger” melihat sosok dan wajahnya. Hal ini diakui tidak juga oleh pengincar cinta, melainkan ibu-ibu atau gadis sebayanya pun berpendapat sama.

Tetapi yang lebih menarik dan mungkin pertanyaan seluruh kaum adam adalah siapakah gerangan yang akan, telah, sedang mendapatkan anugerah yang indah ini? Pemuda orang manakah dia? Seganteng apakah dia? kerja dimana dan sejauhmana hubungannya, tak ada yang tahu, kabar terakhir yang diterima penggoda iseng tentangnya selalu mengatakan bahwa dia belum punya pacar, Wow! Sungguh sebuah kesempatan pemburu cinta yang tidak boleh disia-siakan.

Risa adalah keturunan sunda-padang yang dibawa urban ke tanah Jawa oleh orang tuanya sejak dia kelas empat SD, kepindahannya ke tanah Jawa untuk mencari hidup baru karena ayahnya yang semula sebagai boss kredit barang kelontongan di Payakumbuh tidak bisa lagi melanjutkan aktifitasnya karena sakit-sakitan. Sebelum ke Bandung, dia dan kakaknya sempat tinggal di Jambi selama empat tahun numpang tinggal di pamannya yang seorang jaksa di kota Jambi. Dia sekolah hanya sampai SMA di Bandung, setelah tamat sekolah kemudian langsung bekerja di Uni Tika yang kebetulan teman lama ibunya. Sering pindah-pindah tempat yang dilakukan orangtuanya membuat Risa dirindukan kawan-kawannya baik semasa sekolah maupun sahabat kecilnya di Payakumbuh dan di Jambi.

Dia bekerja di Uni Tika selama lebih dari dua tahun, pengabdiannya di Uni Tika telah menjadikan toko tersebut ramai dikunjungi pembeli, tentu saja dengan berbagai maksud dan tujuan. Ada yang memang butuh pakaian dan membelinya ataupun membeli pakaian dengan berbagai “misi” yang diembannya. Kabar dari Uni Tika menerangkan bahwa yang datang ke tokonya selalu di sisipi pesan tentang Risa, apa ibu-ibu yang cerita tentang anaknya yang sukses dan membutuhkan calon pendamping yang baik dan santun ataupun pemuda yang sebelumnya belanja dengan pacarnya dan di suatu hari kemudian belanja lagi sendirian dan mencari tahu tentang gadis karyawannya. Sungguh dibuat cemburu setiap karyawan yang setiap hari bertemu dengannya.

Lain lagi hari-hari kedepan ini, suasana di sekitar blok C pertokoan itu tidak seperti sebelumnya. Ngerumpi tentang Risa adalah hal yang paling menarik diantara kekosongan pelanggan yang datang. Tentu saja dengan bumbu-bumbu yang menumbuhkan rindu yang paling kuat antar pesaingnya. Persaingan yang tak pernah dilombakan. Persaingan yang berkompetisi dengan sangka dan harapan. Atau ada juga seorang pemuda yang malah menyendiri sambil sesekali memandang kosong ke jendela luar dekat eskalator, senyum sedikit kemudian menggaruk-garuk kepala. Ada juga setelah kepergian Risa malah belum masuk kerja sampai berhari-hari. Beberapa informasi menyebutkan orang tersebut pemuda yang dikatakan paling ganteng di blok itu sedang sakit dan dirawat dirumahnya dengan penyakit yang tidak jelas.

Adapula yang malah menghangatkan rasa rindu dengan hentakan yang menarik jantung para bujang dan bujangan palsu Blok C.
“Tuh, ada Risa...!” Bang Fadli memecah suasana sambil menatap ke jendela luar supermarket.
“Mana?” hampir berbarengan.
“Lagi jalan-jalan”
“Dimana?” Semua tertuju ke tatapan Bang Fadli.
“Ya, dirumahnya Dong.. Ha.. Ha.. Ha..”
“Ah, Si Abang...”

Demikian dengan hari-hari yang dilalui di Blok C selanjutnya, paling tidak satu dua orang diantara penghuni blok tersebut selalu mengaitkan obrolannya dengan gadis yang sudah meninggalkan teman-teman seperjuangannya. *** (bersambung)

Tidak ada komentar: