Senin, 14 Januari 2008

Essey Putsak

PENJELAJAHAN DI KOTAK SABUN
:manusia, makhluk hina dina fakir papa


"Bacalah!, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"
(Al-Alaq :1)

Jangan sekali-kali membaca ayat-ayat yang tertulis dan nampak dihadapan kita tanpa menyertakan pemilik kita, Allah Subhanahu Wataala.
Manusia, adalah makhluk Allah Swt. yang lebih kecil dari atom yang dibagi sejuta, bahkan lebih kecil lagi, coba kita bagi sejuta lagi. Tak ada yang berarti dari yang namanya manusia dihadapan Allah Azza Wazala.
Kita hanya mampu "meminjam" dari sebagian kecil bahkan sangat kecil dan tak berarti apapun bagi Allah Swt. yang menempel pada diri kita. Betapa terhina dan tidak berartinya kita di hadapan Allah Swt. Untuk menembus pengetahuan pun, kita hanya mampu meminjam.
Baiklah, kita pinjam yang paling besar manfaatnya dan berarti dalam hidup kita. Kita meminjam milik Allah Subhanahu Wataala yaitu otak yang mengolah fikiran.
Kita fikirkan dan bayangkan bahwa alam semesta ini sebesar kotak sabun. Diumpamakan bentuk kotak sabun karena manusia belum dan tak akan pernah menemukan bentuk dan ukuran alam raya ciptaan Allah Subhanahu Wataala ini. Yang mampu menduga hanyalah daya khayal, imajinasi dari yang dipinjamkan Allah Subhanahu Wataala pada kita.
Sekalipun teknologi tercanggih yang saat ini dapatkan, jangankan menembus, mengukur, menelusuri, menjelajahi, melihat atau katakanlah membayangkan saja, kita sungguh sangat terbatas!. Dengan demikian kita begitu bodoh dan sedikit pengetahuan tentang alam raya yang sangat luas ini. Dan kita hanya mampu membayangkan saja, walaupun itu didapat dari pinjaman Allah Swt.
Semoga Allah Swt. meridhai apa yang kita pinjam. Sesuai dengan janjiNya, bahwa Allah Swt. ridha jika kita sebagai hambaNya pun ridha, ridha dalam arti manfaat sesuai yang diperintahkan bukan kesewenang-wenangan.
Kita pinjam perumpamaan jagat raya ini dengan segenggam bentuk kotak sabun. Kita tatap kotak sabun dihadapan kita diatas meja. Kita perbesar dengan kemampuan penghayatan dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali! maka kita temukan jutaan galaksi.
Galaksi, kumpulan bintang-bintang yang berjumlah jutaan atau milyaran. Yang berkelip dan berkedip-kedip. Kedipan yang dapat disaksikan lebih dekat dari kemampuan teknologi tercanggih saat ini (contoh dengan teleskop terbesar dunia buatan AS, Hale yang berdiameter 508 cm) ternyata berjarak jutaan tahun cahaya. Satu tahun cahaya sama dengan 5.9 Mil x 1012 atau 300.000km/detik!. Bayangkan dengan kecepatan teknologi manusia saat ini yang hanya mampu mencapai 2, 3 atau 5 mach! (kecepatan suara, 1 mach sama dengan ± 800 km/jam).
Kita perbesar lagi kumpulan galaksi tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jutaan galaksi yang ada, kita baru mengenal temuan dan praduga ilmuwan dengan nama galaksi Bima Sakti. Galaksi Bima Sakti adalah sebuah kumpulan dari bintang-bintang yang masing-masing mempunyai satelit atau pengekor. Atau agar lebih akrab kita sebut dengan sebutan sekumpulan keluarga bintang.
Kita perbesar lagi kumpulan keluarga bintang tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jutaan bintang, satu bintang yang kita kenal dan paling dekat juga memberi salah satu unsur sumber kehidupan yaitu Matahari. Matahari, dengan garis tengah ± 1.4 juta km dan besarnya ±1.3 juta besar bumi. Satu kali berputarnya matahari pada galaksi selama ± 225 milyar tahun. Mempunyai 9 planet yakni; Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto.
Kita perbesar lagi kumpulan planet yang sembilan tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari sembilan planet yang kita kenal, kita adalah salah satu penghuni satu dari sembilan planet tadi, yaitu bumi. Susunan ketiga dari sembilan planet matahari yang kita kenal. Satu-satunya benda langit yang memiliki banyak air dan oksigen pada permukaannya. Yang terbentuk sekitar 4.5 milyar tahun lalu (Manusia hanya berumur rata-rata 60-70 tahun!). Dengan penghuni yang namanya manusia saat ini berjumlah ± 6 milyar orang. Entah berapa banyak jumlah makhluk lainnya. Sebuat saja nyamuk, belalang, ayam, burung juga makhluk Allah Swt yang berupa bakteri yang tidak tampak yang ada ditiap-tiap manusia.
Kita perbesar lagi kumpulan makluk hidup yang berjumlah milyaran tadi dengan pembesaran lebih dari 1 trilyun7 kali!
Dari jumlah yang tidak terhitung itu, kita akan menemukan dua makluk hina dina fakir papa, yang tak mampu apa-apa, yang hanya mengandalkan sedikit saja kekuasaan Allah Subhanahu Wataala, yaitu aku dan kamu.
Dua makluk Allah Swt. ini begitu tidak berarti. Jangankan dihadapan Allah Swt. yang tidak ada tandingan dengan makhlukNya, dengan makhluk ciptaanNya saja kita tidak dapat membandingkan. Jangankan dengan makhluk yang baik atau sholeh, dengan yang jahat saja kita tidak sebanding apa-apa. Hanya kekuatan Allah Swt. yang dapat menggerakkan dan menaik-turunkan derajat kita. Firaun, yang tercatat dalam Al-Quran sebagai manusia laknat yang dicontohkan Allah Swt., jauh lebih kaya dan lebih berkuasa dibanding aku dan kamu!
Apa yang kita niat sombongkan? Harta? Tahta? Harga diri? sungguh! tidak berarti apa-apa.
Allahu Akbar!!!
Menangis sampai matipun tidak dapat menebus apa yang kita niat sombongkan. Hanya niatan saja!, apalagi yang pernah kita lakukan. Begitu juga dengan kelalaian dan dosa-dosa yang pernah kita perbuat.
Allahu Akbar!!!,
Hanya orang-orang yang berimanlah yang beruntung!
Iman kepada Allah Swt., mengharap ampunanNya adalah perintah pemilik jagat raya yang sangat luas ini. Sebuah perintah yang sangat "kecil" dan tidak berarti dihadapanNya, tapi begitu berat kita memikulnya.
Bacalah!, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!
Membaca alam dan menafakuri ciptaanNya adalah sebuah bentuk ibadah, bagian dari pengabdian kepada Allah Swt. Bisa juga dikategorikan dzikrullah, mengingat Allah Swt. Karena manusia sangatlah terbatas, sebagai panduan kita untuk mengenalNya ialah dengan mengenal ciptaanNya. Hasil karya Allah Swt. beserta instrumen yang ada didalamnya. Karena ayat-ayat Allah Swt. itu sangat luas. Seperti perbandingan air yang menetes adalah ilmu yang kita semua miliki, dengan samudera yang sangat luas. Sungguh tidak berarti apa-apa sesuatu yang kita ketahui melainkan sedikit saja.
Membaca karya agung Allah Swt, seperti gunung tinggi, laut lepas, langit biru dan alam lainnya. Juga instrument pendukungnya atau malah perusaknya, sebut saja hewan, binatang, tumbuhan dan manusia, aku dan kamu. Laki-laki dan perempuan, saling mempelajari, memahami sifat-sifat baiknya, mengikuti apa yang baik disarankannya, menjauhi dan melarang keburukan yang dilakukannya adalah bentuk dzikrullah.
Semut yang kecil pun berdzikir pada Allah Swt, menembangkan nama Tuhan, maka kita jaga tasbihnya, kita pertahankan kekhusuannya di malam gelap, di siang sibuk, atau dilelah sangat. karena waktu-waktu itulah kita harus mengingat Allah Swt.
Dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman: Dan beribadahlah kamu disela-sela kesibukanmu maka akan Aku cabut kefakiran pada dirimu. Jika tidak, maka Aku akan buat kalian sibuk tetapi tidak akan Aku cabut kefakiran atas dirimu.
Fakir, bukan saja dalam arti materi tetapi bisa juga dalam arti non materi seperti rasa resah, panik, takut miskin, merasa kurang, do’a susah terkabul dll., adalah bentuk kefakiran yang mungkin Allah Swt. terapkan pada kita, hingga suatu waktu kita merenungi langkah-langkah yang telah kita perbuat dan senantiasa bertobat memohon ampunanNya serta mengharap ridha dan kasih sayangNya.
Wa anal-faqir! Wa nahna-l fuqara! Dan aku hanya hamba hina-dina, fakir-papa yang masih mencoba berjuang dan terus belajar dari keterpaksaan dan kesabaran, kesempitan dan kelapangan untuk sekedar memperoleh secipratan saja dari ludah harum cintaMu Ya Habib! Itupun kadang aku lalai dan lupa atau malah melalaikan dari yang telah Engkau anugerahkan.
Maafkan hambaMu ini Ya Allah... Karena hanya Engkaulah yang Maha Pemaaf.
Sesungguhnya semua yang kita miliki ini hanya pinjaman, pinjaman dari pemilik kita, yang suatu saat harus dikembalikan. Dikembalikan apa yang dipinjamkan kita tentu saja harus utuh jangan sampai rusak, oleh karena itu kita wajib menjaga dan memeliharanya.
Mari kita segera bertobat, mumpung pintu tobat Allah yang Maha Pemurah masih terbuka lebar...
Karena kita adalah makluk yang sangat kecil dan tak berarti apa-apa dihadapanNya.
Semoga kita kembali ke jalan yang benar.
Amin Yaa Allah Yaa Rabbal Aalamiin...
***

Wallahu A’lam...

Bandung, 22 Agustus 2005

Tidak ada komentar: