Senin, 14 Januari 2008

Ketik Semua Ini

Mei-Juni ‘05
sajak-sajak negeri cinta


Maafkan daku sayang

Aku bukan maniak cinta…
Setiap kali aku menjelma arjuna, ragaku penuh pesona, melantunkan syair cinta di setiap dermaga, tapi entah dimana perahu asaku kandas. Padahal aku tertegun pada raut mukamu yang tanpa make up & gincu.
Setiap aku menjelma rahwana, hitam kelam pesonaku pudar tak bergairah, tetap saja menyimpan dendam pada ketulusan dan takdir. Mengumpat asap yang membumbung di ujung kapal yang berlayar entah kemana.

Hitam putih ku terus melingkari keadaan pada semua yang aku inginkan.
Pada apapun yang terus melangkahi nasib dengan keinginan.
Tertuju pada pola batin yang terhalang janji dan prasangka.

Hingga suatu masa kutemukan jalan mana memandu hati yang kelak tampak sebuah jembatan, menerjunkan air dipekarangan senja hari.
Pulanglah! Kata si pemilik perkutut itu, sirami kemboja dengan do’a.

Tiba-tiba teng! sekali, membuyarkan tatapanku yang larut dalam tanya seseorang:
Akankah aku terus disini, digorong-gorong negeri kapitalis….
Entahlah…

KETIKA BURUNG YANG KUTEMUKAN TIBA-TIBA TERBANG
Mungkin pertemuan kita adalah sebuah episode yang terus membawa alur cerita lain, pada sebuah kenyataan dimana kau telah mengakui keberadaan hidupmu di suatu sejarah paling rahasia. Tak ada kepastian yang menancap dihatiku yang membuat aku terhenti untuk melukai diri atau terus memburu palung hatimu yang pernah aku kunjungi.
Dan ketika persimpangan terbentuk oleh janji yang sudah kau bangun, membuat tercipta sebuah kesedihan dan harapan diujung jalan yang akan masing-masing lalui.
Tapi aku belum mampu untuk mengakui bahwa kau tak pernah mengingatku dalam keadaan sadar dimana keinginan menunggu seperti sebuah umbul-umbul atau bendera negeri yang asing.
Sebuah alamat yang akan menjadi petunjuk hatimu telah aku bangun dan siap didengungkan pada suatu waktu yang sunyi. Aku tak mau kita menderita…
Satu yang aku inginkan ketika sesuatu terjadi bahwasannya kita harus selamanya bahagia, dan kebahagiaan itulah yang menuntun pada kebijakan dan arah dari perjalanan abadi menuju janji yang telah kita ucapkan.
Mungkin kita harus belajar lagi tentang sebuah negeri yang murung mengantar kita untuk bertemu di suatu masa yang tak pernah dimimpikan. Atau sebuah takdir yang mesti terjadi inilah yang kan membawa kita menyambung cerita dari setiap keadaan yang telah lama berubah hingga pada mimpi-mimpi yang kita lalui.
Sejauh mana kebahagian kita kala menderita dan berjuang keras untuk terus keluar dari malapetaka? Atau sejauh mana kebahagian kita kala mendapat cobaan keceriaan dan harapan yang telah kita nikmati?
Maka sejauh itulah kebijakan yang kita dapatkan sehingga hitam-putih lembaran cerita kita dapat bertahan.

:: ..., .., .


Hanya satu dari sejuta kenyataan dari perasaan yang
membawa, menelusuri,
mengepung pikiranku hingga aku terus seperti ini.
Biarkan asmaraku membatu,
menjadi sebuah tugu yang berdiri ditengah persimpangan jalan,
dari sebuah siklus kehidupan pada awal musim dimana bunga bermekaran dan kumbang bertebaran.
Adalah bagian kecil dari rona wangi kesombongan manusia
yang membakar dirinya dengan rasa yang tertanam dalam dada insan ciptaanMu,
atau sebuah ego mematahkan janji yang diragukan seseorang dan mencobanya untuk dibuang, atau dilupakan dengan terpaksa.
Sesosok bayangan mengendap & menikam ketulusan. Pada pergeseran waktu yang tak pernah diduganya.
Berabad-abad lalu aku tak pernah memikirkan luapan ombak ini,
begitu sesak...

Mimpi-mimpi
Sayang, jika kau tanya tentang apa yang aku inginkan dari calon pendamping hidupku? Aku tetap menjawab seperti dulu, seperti saat aku merenung tentang the future. Lima, sepuluh atau limabelas tahun lalu, tak pernah berubah.
Saat aku masih melangkah diparit sawah sepulang sekolah, dengan dasi merah dan sepatu yang digantung ke dada. Atau saat melewati pasar ikan, menyusuri pertokoan dan melintasi terminal hingga tasku yang jumbo bau amis. Atau saat menunggu bis dijembatan dengan rokok dua batang yang satu setia didompet dan satu lagi berkorban dihisap dan dibuang. Atau ketika kemping dilembah yang sunyi sambil membakar api unggun dengan sarung ditubuh. Atau ketika menyelesaikan sisa pekerjaan paling sulit dari format desain yang sudah ditunggu untuk presentasi hari esok. Atau ketika terbangun dari mimpi tentang burung yang hinggap di pundak dan tiba-tiba lepas. Atau ketika seorang klien yang berjanji untuk setia pada penawarannya tentang kehidupanku. Ataupun ….
Pun jika tetap seperti yang aku inginkan tidak harus seperti yang aku targetkan, sebab target telah melanggar HAM, malah kadang menjadi sebuah pemaksaan.
Tapi banyak yang tidak kapok dengan target, padahal seharusnya dia sudah dipenjara seumur hidup, atau dihukum pancung sebab sudah layak dan sesuai dengan yang didakwakan...

A Short Message
Pagi itu kutemukan pecahan kaca,

terinjak-injak dengan sabar.

Memandangi wajahnya yang murung
atau tertawa terbahak,

kemudian melupakannya.

Janji?
Tak ada yang salah dari sebuah pengakuan, jika itu suatu ketulusan, kebetulan atau kebohongan atau apapun namanya hak seorang manusia tetap ada pada dirinya. Janji, yang membuat seseorang terjerat hutang, hutang yang membuat orang sengsara…
Tapi ketahuilah, hutang dapat terbayar dengan janji (tapi bukan berarti membayar hutang dengan janji lho!)
Janji hanya bagian dari proses, atas sebuah kesungguhan dalam melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan. Sehingga tercipta dua akibat yang “membereskan” perjalanan dari sebuah janji, ampunan dan ancaman.
Tetapi bukankah Tuhan Maha menepati Janji? Ya, tak ada yang menyangkal dengan janji Tuhan, kecuali memang tidak percaya sama sekali dengan Tuhan.
Dan itu akan diselesaikan dengan sekaligus, sebuah timbal balik atas perilaku yang tidak percaya akan keberadaan-Nya, baik dan buruknya mereka akan terbayar saat mereka menjalaninya.
Tapi sebuah kunci “perjalanan” selanjutnya akan tertutup bagi mereka yang tidak mengakui-Nya. Dan begitupula janji Tuhan, kelak akan dibalas mereka yang tidak mempercayai-Nya atas ketidak akuannya.
Sebuah perjalanan manusia yang sangat pendek yang tergaris dalam lingkaran waktu yang bernama dunia telah membuat manusia memilih alur hidupnya atas dasar Naluri dan keilmuan. Yang terbentuk dari suatu keinginan, yang memutar berbagai poros lahir & batin
sehingga tercipta multipolar sebuah akhir dari sebuah penilaian manusia. Akhir dalam arti ketidak kekalan, akhir adalah bagian dari sesuatu yang mengikat dalam suatu apapun namanya.

Maaf, HAMBA Ketuk PINTU-Mu
Adalah karena Engkau yang membawaku kemari, untuk hidup dalam gegap gempita kota yang hampir metropolitan, yang merupakan medan perjuanganku dalam bertarung ditengah keputus-asaan. Medan kekonyolan dan kesombongan. Sebuah negeri yang pantas ditertawakan, terlahir dari berbagai keinginan dan harapan setiap insan. Atau medan ketersesatan dan keterperosokan hingga luka menganga pun cinta terpana.
Wa anal-faqir! Wa nahna-l fuqara! Dan aku hanya hamba hina-dina, fakir-papa yang masih mencoba berjuang dan terus belajar dari keterpaksaan dan kesabaran, kesempitan dan kelapangan untuk sekedar memperoleh secipratan saja dari ludah harum cintaMu Ya Habib! Itupun kadang aku lalai dan lupa atau malah melalaikan dari yang telah Engkau anugerahkan.
Tetapi akupun akan terus dan terus berharap untuk tidak bertepuk sebelah tangan dari cintaMu. Dan aku harus berjuang keras untuk mendekati Engkau Ya Rabb! Lebih dekat, dekat hingga kedekatan menyambar jarak lebih dari urat leherku!
Sekarang aku masih mencari, menanti arti petunjukMu, tentang episode kasih sayang yang tertanam pada jiwaku, yang telah Engkau takdirkan lewat kekuasan tiada banding. Aku kadang menjauh dari Engkau yang maha tahu akan setiap isyarat hatiku, hingga Engkau pun menjauh seperti yang dijanjikan.
Aku tetap berharap dia siap bahagia! dalam menelusuri peta kasih sayangMu. Kebahagiaan dalam menghadapi penderitaan dan kepedihan, juga kesenangan dan keceriaan. Kebahagiaan yang senantiasa menyelamatkan hamba-hambaMu dari kegelapan dan kefanaan medan juang ini.
Adakah dia sanggup menerimanya, Wallahu A’lam


Dinding

I
Redamkan kehampaan batinku dari lubuk hatimu aku terkesima,
sadar ketika malam-malam yang aku lalui semakin bodoh.
Dinding itu yang begitu tinggi,
Hingga aku terus menatap ke awan sambil sesekali terlihat engkau melintas.
Ah, tapal batas ini menggodaku!
Untuk sesekali aku bongkar dan aku cari celah yang paling sunyi.

Kadang aku tak sabar dengan kodrat setiap insan,
untuk aku pupuk dan tanami taman indah dipekarangan kita
tapi dinding itu yang begitu tinggi, neng!
Mengakhirkan selamat pagi pada embun di ruang batin ini.

II
Tiba-tiba kau meliuk dan mengejar teman, teman-teman atau sahabat kecilmu
Masih disini malam ini,
Begitu setia mendatangi kalimat-kalimat surgawi
Atau ayat syahdu dari do’a suci bunda

Sayang, tak kuasa aku melihat engkau begitu ceria disuatu malam tanpa purnama
Hingga aku begitu ngiri dengan kemampuanmu.

Hanya sayang,
hanya ada didirimu


(27) 320878 - 1905

Virgian in solitude,
Silent,
Lonely,
My self.

Ferfect in track of years...

Tidak ada komentar: