Senin, 14 Januari 2008

SEPI – NASIB KITA SEMUA

Kesepian adalah suatu gejala yang sangat umum : Orang tua maupun orang muda, orang yang menikah atau yang hidup membujang, yang tinggal di daerah terpencil atau lebih-lebih yang tinggal di kota-kota besar dihinggapi perasaan sepi seorang diri. Apalagi, mereka yang kehilangan teman akrab atau teman hidup yang selama bertahun-tahun mendampingi mereka seringkali tidak mampu lagi membina hubungan baru yang akrab.
Kita semua membutuhkan hubungan yang akrab, intim dan mendalam. Bukan terutama secara jasamaniah, melainkan terlebih secara batiniah. Kita harus dapat berjumpa dalam hati ke hati. Berjubelnya orang-orang di kampung, di kota-kota besar, dan banyaknya pesawat televisi yang semakin menyisihkan pembicaraan dalam keluarga, menambah jumlah sesama kita yang merasa terasing tanpa teman yang mau mendengarkan.
Kesepian, - bagaikan suasana senyap pagi buta, ketika semua masih terlelap tertidur… tak ada suara orang, radio ataupun lalu lintas yang mengganggu ketenangan. Semua masih diam – tenang.
Kesepian, - tak seorangpun datang berkunjung, halaman dan rumah bagaikan mati, hanya detak jarum jam menunjukkan waktu yang telah berlalu tanpa makna dan isi.
Kesepian – tak ada tegur sapa dan jawaban, semua hubungan terasa mati, sepi sendiri, seakan-akan terkunci: orang orang – sesama manusia – bagaikan benda asing; tak ada yang oeduli, dingin membeku; orang kesepian merasa dilupakan, disingkirkan, tak ditemani, tak berguna bagi siapapun.
Kesepian, - suatu derita batin yang mencekam banyak orang, bukan saja mereka yang tinggal jauh dari pasar, jalan ramai atau kampung yang berjubel-jubel. Korbannya bukan hanya mereka yang tidak mempunyai keluarga atau teman sepekerjaan, atau suami dan isteri. Kesepian dapat menyusup ke dalam lubuk hati kita semua yang berada di tengah-tengah kesibukan dan keramaian sepanjang hari.
Manusia adalah makluk sosial, maka ia memerlukan hubungan manusiawi dengan sesamanya. Kodrat manusiawi menuntut agar kita menjalin hubungan akrab satu sama lain. Kita hidup bersama-sama dalam keluarga, suku dan masyarakat bukan hanya karena kita saling membutuhkan , tetapi karena kita merasa tertarik satu sama lain.
Bila keperluan manusiawi akan keakraban itu tidak terpenuhi, kita cenderung merasa tertekan walaupun hubungan ini, mungkin tidak kita sadari. Dalam keadaan seperti ini kita merasa ditolak dan terkurung dalam diri kita sendiri. Kita semua menderita kesepian – suatu rasa nyeri di uluhati yang dapat menghisap semangat dan memboroskan energi.
Banyak orang mencari konpensasi untuk mengisi keperluan mereka akan hubungan akrab dengan orang lain. Kompensasi ini berbagai macam : Ada orang yang cenderung melarikan diri ke dalam keramaian; rumah mereka senantiasa hiruk-pikuk, tamu datang silih berganti dan banyak kenalan diundang, ramai-ramai pergi piknik, nonton atau belanja.
Lain lagi memenuhi keperluan akan hubungan akrab itu dengan melibatkan diri dalam berbagai macam organisasi, sibuk dengan urusan-urusan kepanitiaan atau pertemuan. Tidak penting apakah yang dilakukan itu bermanfaat atau tidak.
Adajuga yang mudah berganti-ganti teman, karena mereka tidak mampu menjalin hubungan yang mendalam. Hubungan mereka dengan orang lain hanya berkisar pada soal bisnis, hobi atau omong kosong.
Seks bagi mereka yang saling memperhatikan, mengkomunikasikan hubungan yang akrab. Tetapi bagi mereka yang asing satu sama lain, seks malah menguatkan rasa keterasingan. Sama halnya dengan alkohol atau obat-obatan bius lainnya, seks tidak dapat membunuh kesepian. Bila rangsangan telah mereda, kesepian muncul kembali.
Orang kesepain mudah ketagihan, entah pada pekerjaan, alkohol, obat bius atau hubungan seks dengan sembarang orang. Ketagihan seperti itu meringankan penderitaan untuk sementara waktu. Kekecewaan akibat kesepian dihapuskan oleh kepuasan lain lain yang bersifat sementara. Orang-orang yang ketagihan lebih menyukai kepuasan yang membius dan cepat berlalu daripada dengan berani menghadapi sebab kekosongan dalam hidup mereka.
Nampaknya sudah menjadi hukum, bahwa bila sesuatu berkurang maka ketidak seimbangan mencari kompensasi sebagai jawaban. Tetapi sebagi makluk manusiawi kita berbeda dari makluk-makluk ciptaan lain, karena kita mampu mengambil keputusan.
Di beberapa tempat diseluruh tanah air kita, dibuka rumah-rumah khusus untuk menyepi. Diantaranya ada yang menerima tamu yang ingin bersemadi untuk beberapa hari saja, adapula yang didiami oleh para rahib atau rubiah yang seumur hidup menutup diri dalam rumah yang sunyi senyap dan dikelilingi oleh tembok tinggi untuk memisahkan mereka dari dunia ramai. Dalam kesepian itu mereka mencari hubungan yang semakin akrab dengan Tuhan, karena hanya dialah yang dapt mengisi kerinduan manusia akan keakraban yang menyeluruh.
Bagi kita semua sumber ini tersedia. Kesepian itu bagaikan demam yang merupakan suatu gejala. Yaitu gejala bahwa hati kita merindukan suatu kepuasan yang mendalam. Kesepian mengisyaratkan kepada kita, bahwa hubungan manusiawi kita kurang berakar secara mendalam, kurang terbuka, kurang akrab.
MANUSIA MAKHLUK YANG KESEPIAN
Manusia dibedakan dari makluk ciptaan lain karena ia sadar akan dirinya sendiri. Disamping sadsr akan segala macam perasaan tubuh dan aneka ragam peristiwa, kita menyadari perbedaan dan keterpisahan kita satu sama lain. ‘Aku’ kita berfungsi sebagi subjek atau sebagai pengamat atas tindakan-tidakan yang kita lakukan. Sebagai subjek ‘aku’ bertindak dan melakukan sesuatu.
Adanya kekhususan dan keunikan setiap manusia seringkali menyebabkan timbulnya ketegangan dalam kehidupan bersama. Masyarakat kolektif – baik yang primitif maupun yang modern – berusaha mengurangi kadar ketegangan ini dengan melebur para anggotanya dalam kehidupan berkelompok, sehingga masing-masing individu tenggelam dalam masyarakat. Namun demikian, tetap saja muncul individu-individu yang berkembang sebagai pribadi yang khas.
Keterbatasan kita sebagai makhluk biologis mengungkapkan juga keunikan kita masing-masing. Tidak ada dua orang persis sama. Dua orang kembar tidak iodentik satu sama lain, kendati mereka amat serupa. Tubuh kita menetukan batas kita, tetapi sekaligus melindungi juga keunikan pribadi yang kita miliki. Kita terbatas pada ruang dan waktu tertentu.
Beberapa binatang juga memiliki juga keahlian semacam itu. Tupai dari jenis tertentu (opposum), misalnya, akan pura-pura mati bila tidak berdaya menghindari serangan binatang lain. Secara naluriah hal itu dilakuakan untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi manusia melakukan hal serupa dengan sadar. Ia menyadari bahwa ia sedang bermain sandiwara. Manusia dapat memikirkan kembali perbuatannya, bahkan dapat merasa bersalah karenanya. Kalau kiat dapat menggunakan tubuh untuk menyembunyikan identitas kita, maka jelaslah bahwa tubuh sesungguhnya kurang mampu membatasi diri kita. Justru kita sendirilah yang dapat melampauinya. Meskipun demikian, perlu kita sadari bahwa melapaui batas-batas tubuh (transcedence) dapat membuat kita semakin merasa sepi dan terisolir.
Kesepian – suatu penderitaan
Orang yang kesepian jiwanya menderita, lubuk hatinya dihantui oleh semacam ketakutan. Kesepian itu bersumber pada keterpisahannya dari orang lain. Perasaan terasing yang kita alami dalam kehidupan bersama orang lain; terutama disebabkan oleh adanya dan kekhususan kita masing-masing. Mungkin kita pernah merasa begitu terasing dengan seseorang, sehingga kita tidak merasakan adanya hubungan sedikitpun dengannya.
Kita sudah mengalami keterpisahan dengan orang lain, semenjak kita masih bayi. Trauma yang terjadi pada awal hidup ini menanamkan kesan yang amat dalam dan mempengaruhi hidup kita dikemudian hari sebagai orang dewasa. Inilah yang paling menggelisahkan kita, karena tidak mempunyai ingatan apapun untuk menjelaskan asal-usulnya.
Keterpisahan tak akan pernah berakhir
Pengalaman akan keterpisahan dimulai pada saat kelahiran. Pada saat ini bayi terpaksa melepaskan kehangatan dan ketentraman yang diperolehnya dalam rahim sang ibu.
Dr. Frederick Laboyer – seorang ahli kandungan berkebangsaan Perancis – telah menemukan suatu metode yang diharapkan dapat mengurangi guncangan jiwa pada saat kelahiran.
Setelah keterpisahan akibat kelahiran, banyak anak harus hidup dalam keluarga dengan banyak anak lain. Hal ini dapat membuat bayi semakin merasa terpisah dari orang tuanya. Penderitaan semakin dalam pada usia remaja, ketika individualitas memuncak justru pada saat pemuda mengalami krisis harga diri dan identitas. Selama merasa pubertas, pertumbuhan jasmani menghasilkan kecenderungan kearah intimitas yang tentu saja bertentangan dengan dengan kesadaran akan keterpisahan yang semakin tajam pada waktu itu.
Kesepian akibat trauma
Setiap tahap dalam kehidupan mempunyai potensi untuk menciptakan kesepian. Tapi kita paling dicekam oleh kesepian pada waktu mengalami dukacita. Kedukaan yang disebabkan oleh meninggalnya orang yang amat dicintai dapat menenggelamkan seseorang dalam kesepian yang mendalam.
KESEPIAN YANG MENCEKAM
Kesepian kerapkali menyertai aneka ragam kejadian di setiap tahap kehidupan manusia. Ini memang wajar. Selain itu kesepian juga merupakan akibat dari ketidakberesan yang terdapat pada diri manusia sendiri.
Mempertahankan sikap egosentris.
Sikap defensif-ofensif (bertahan dan menyerang) ini menyebabkan jatuhnya manusia ke dalam jurang rasa sepi yang mendalam. Sikap ini bertolak belakang dengan sikap mau mengambil bagian atau sikap membuka diri. Kita cenderung membangun tembok pemisah daripada jembatan penghubung. Hubungan kita jadi dangkal karena kita menutup diri dari dengan berbagai macam kamuflase sama seperti Adam dan Hawa, kita juga tidak tahan bila tampak ‘telanjang’. Kita memerlukan ‘daun’ untuk menutup ketelanjangan kita. Dan pohon ara yang dipakai Adam dan Hawa, melambangkan usaha kita untuk menyembunyikan diri kita yang sesungguhnya. Akibatnya, munculnya kesepian yang makin dalam dan mencekam.
Rasa Bersalah dan keterasingan
Jatuhnya manusia ke dalam dosa menimbulkan reaksi yaitu, rasa bersalah. Perasaan ini muncul karena kita merasa tidak bahagia karena telah menyeleweng dari tujuan hidup yang sejatidan tidak sesuai dengan kodrat yang kita miliki. Ketenangan jiwa kitapun goyah karenanya. Alasan paling memadai bagi perasaan tidak bahagia ini ialah ketidak serasian antara kita dengan kemanusiaan kita sendiri.
Lebih dari pada itu, rasa bersalah membuat kita kurang menghormati diri kita sendiri. Dalam istilah modern, sikap ini disebut ‘gambaran-diri yang rendah’ (low self-image). Kita sulit menerima diri kita sendiri apa adanya. Akibatnya, kita merasa tidak enak berhubungan dengan orang lain, juga dengan diri kita sendiri. Keadaan seperti ini sulit sekali dihindari meskipun telah kerapkali kita berusaha mengatasinya.
Pribadi-pribadi egois membentuk suatu masyarakat yang mendukung keterasingan dan kecurigaan. Philip Slater, dalam bukunya The Pursuit of Lonelines, melukiskan kecenderungan manusia yang dikatakannya lebih suka melibatkan diri dalam adu kekuatan daripada saling membagi pengalaman dan perasaan. Sikap ini tentu hanya akan menumbuhkan suatu masyarakat yang lebih suka bersaing daripada bekerjasama, yang akhirnya menghantar anggotanya pada bentuk kesepian yang mengerikan. Pada kontestan dalam adu kekuatan ini lebih menyukai ketertutupan daripada keterbukaan. Mereka lebih menyukai formalitas daripada ungkapan isi hati. Dalam masyarakat yang mendukung keterasingan individu macam ini, bagaimana mungkin kita dapat hidup tanpa rasa cemburu, iri hati dan usaha untuk saling menjatuhkan? Dan pada gilirannya sifat-sifat seperti itu akan membuat kita merasa semakin asing satu-sama lain, sehingga memaksa kita untuk mempertahankan ke-aku-an kita dengan lebih gigih lagi.
Rasa sepi ditengah-tengah keramaian
Sungguh ironis bahwa kesepian justru merupakan ciri khas dari keramaian. Kita seolah-olah merasa dimasukkan dalam sebuah kotak sabun bila tinggal disebuah kampung yang berjubel-jubel, atau bila mendiami sebuah flat yang rapat tersusun dalam sebuah gedung yang bertingkat-tingkat. Kontak dengan orang-orang sekitar kita terasa dipaksakan, sehingga menumbuhkan rasa asing dalam diri. Kita merasa seakan-akan didesak mundur untuk bersembunyi di dalam rumah siput kita yang sempit.
Kita dapat menjumpai orang-orang desa yang berusaha menutupi diri, walupun cara mereka berbeda dengan cara orang-orang kota. Masyarakat di desa atau di kota-kota kecil seringkali berhubungan satu sama lain hanya sekedar basa basi demi sopan santun. Dengan demikian hubungan diantara mereka tidak lebih dari suatu hubungan yang dangkal sifatnya.
KETAKUTAN TERHADAP KEAKRABAN
Banyak dari antar kita yang menyimpan dua macam pikiran mengenai keakraban : Dari satu pihak, kita merindukan hubungan akrab dengan orang lain untuk meringankan beban dari penderitaan rasa sepi yang menyiksa. Tapi di lain pihak kita meras takut terhadapnya. Kesepian sesungguhnya dapat dilukiskan sebagi rasa takut dan cinta.
Mengapa kita takut akan cinta? Dengan memusatkan perhatian pada kepentingan diri sendiri. Sebenarnya kita, membangun kubu-kubu pertahanan untuk melindungi diri; dan kita merasa takut jangan-jangan orang lain menerobos kedalammya. Hubungan akrab dengan orang lain kita pandang sebagai ancaman terhadap rasa aman, yang hanya kita miliki bila berada di balik tembok yang membentengi diri kita itu.
Keakraban dalam perkawinan
Banyak orang yang merasa takut terhadap keakraban bahkan dalam bentuknya yang paling akrab, yakni perkawinan. Gambaran mengenai keakraban dalam kehidupan pasangan suami isteri, ditampilkan dalam adat istiadat perkawinan. Tapi perlu dibedakan antara upacara perkawinan dan hidup perkawinan itu sendiri. Upacara hanya bersifat sementara, sedangkan hidup perkawinan berlangsung selam pasangan masih hidup. Dalam kenyataan, menjadi suami dan isteri bukan hanya suatu kedudukan melainkan dan terutama suatu cara hidup bersama. Orang yang sudah menikah dapat tetap bersikap tertutup terhadap hubungan akrab dengan pasangannya. Sebaliknya orang yang hidup membujang dapat membuka diri sepenuhnya terhadap keakraban itu.
Persatuan seksual
Ketegangan yang muncul sebagi akibat keinginan untuk menjalin hubungan akrab dengan orang lain dan sekaligus mempertahanklan identitas diri, dilambangkan dalam keakraban seksual; Dari satu pihak, keakraban ini melambangkan persatuan yang sangat erat antara seorang pria dan seorang wanita, pria masuk kedalam tubuh wanita dan wanita membuka diri untuk menerima pria. Tapi dilain pihak, puncak dari persatuan itu ialah orgasme, yaitu suatu pengalaman yang terarah pada diri-sendiri (self-oriented). Manstrubasi menarik banyak orang yang justru karena pengalamn yang self-oriented itu orang memperoleh pengalaman yang nikmat tanpa harus merasa kecewa karena terpaksa berhubungan dengan orang lain. Pada saat melakukan manstrubasi, orang dapat mengkhayalkan orang lain sebagai partner yang berhubungan akrab dengannya. Tubuh yang dibayangkan itu sepenuhnya berada dibawah kontrolnya: secar mutlak dimilikinya.
HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
Sekarang kita sampai pada pembicaraan mengenai berhubungan kita dengan orang lain. Bahwa pokok ini ditempatkan hampir pada bagian terakhir buku ini, tidak berarti hubungan dengan orang lain adalah faktor yang kurang penting dalam usaha kita untuk mengurangi penderitaan akibat kesepian. Hubungan dengan orang lain tidak boleh dianggap sebagi faktor kebetulan saja, tetapi juga bukan sebagai faktor yang pantas menyita seluruh perhatian kita dalam pemecahan masalah ini.
Kita membutuhkan teman
Walaupun kutipan itu sesuai dengan konteks sejarah mengenai pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, namun perlu dicatat bahwa hubungan manusia yang ditampilkan didalamnya sesungguhnya melampaui hubungan antara pria dan wanita. Kutipan itu menggambarkan kodrat manusia sebagai makhluik sosial, lebih daripada sekedar pergaulan antara seorang pria dan seorang wanita. Manusia termasuk golongan yang kedua. Kita membutuhkan teman dan bergaul akrab satu sama olain agar dapat megalami hidup manusiawi secara penuh. Kita semua memiliki kodrat sosial, baik yang hidup dalam masyarakat purba maupun yang sekarang ada dalam masyarakat modern. Kita hidup bersama-sama dalam suatu kelompok masyarakat yang disebut marga, suku bangsa, atau pun negara bukan hanya saling melindungi melainkan juga agar dapat saling membantu untuk menikmati kebahagiaan bersama.
Kendati pokok mengenai hubungan antar manusia dibahas pada bagian terakhir, namun hubungan ini mendasari setiap hubungan lainnya. Tanpa hubungan dengan orang lain, bayi manuisa akan mati. Ia tidak hanya membutuhkan susu atau makanan lain, tetapi juga sapaan dan belaian. Banyak binatang yang tumbuh sehat asal keperluan jasmani mereka terpenuhi. Tak peduli itu dipenuhi oleh binatang sejenis atau oleh jenis lain, seperti oleh manusia misalnya. Tetapi bayi manusia sangat membutuhkan kehadiran orang lain yang sayang kepadanya. Ia sangat membutuhkan hubungan akrab dengan sesamanya agar dapat berkembang sebagai makhluk yang manusiawi.
MENGAMBIL RESIKO UNTUK MEMENUHI KEPERLUAN SENDIRI
Memperhatikan kepentingan sendiri.
Barang kali kita merasa enggan memperhatikan kepentingan kita sendiri. Sebab, kita beranggapan, bahwa setiap usaha yang ditujukan untuk memnuhi kepentingan diri sendiri bersifat egistis.
Banyak orang menganggap diri egois, bila melakukan sesuatu bagi kepentingan diri mereka sendiri. Sebab, bagi mereka, ‘aku’ dan ‘orang lain’ merupakan dua kategori yang terpisah satu sam lain. Bagian kedua dari hukum utama meluruskan masalah ini.
Mengatasi ketergantungan
Ada orang yang merasa segan untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, sekan-akan hendak meyakinkan diri mereka sendiri dan orang lain juga, bahwa mereka tidak menginginkan apa-apa. Dengan sikap pasif ini, mereka memaksa orang lain untuk mengambil keputusan yang semestinya merupakan keputusan bersama.
Orang yang suka menggantungkan diri pada orang lain, sebenarnya mau mempermainkan orang dan karenanya menjemukan.
BAGAIMANA KITA DAPAT MEMBANTU ORANG LAIN YANG KESEPIAN
Ada yang cukup banyak orang mengalami kesepian. Banyak diantaranya bahkan menderita cacad, sehingga penderitaan mereka tambah berat. Banyak orang tinggal dalam lembaga-lembaga yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang menderita penyakit jasmani, mental meupun sosial. Dan banyak ndari anatar lembaga-lembagaitu perlu dimanusiawikan.
Mirian Polster, seorang psikolog klinis, dalam suatu ceramahnya mengenai kesepian mengatakan, bahwa ia tidak habis mengerti mengapa ada orang yang dapat meras kesepian padahal katanya sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya. Rasa puas dengan pekerjaan biasanya diungkapkan secara lahiriah pada saat melakukan pekerjaan itu. Memang, tidak mungkin setiap oranmg dapat memperoleh pekerjaan yang memuaskan. Jika kita meras bahwa pekerjaan kita tidak berarti, sebaiknya kita mencari pekerjaan lain.
Kita menerima agar kita dapat memberi
Ada orang yang merasa kurang senang bila menerima sesuatu dari orang lain. Mereka merasa lebih layak memberi daripada menerima. Tapi ada juga orang yang merasa lebih suka menerima daripada memberi. Mereka bagaikan orang yang gemar tawar-menawar untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Memberi dan menerima adalah penting untuk mencapai kemanusiaan yang utuh. Dalm bab sebelumnya kita telah menekankan pentingnya sikap terbuka untuk menerima. Maka dalam bab Ini kita perlu menekankan pentingnya sikap mau memberi.
Memberi adalah baik bagi kita sendiri. Tapi, ini bukan alasan satu-satunya supaya mau memberi. Memberi harus berarti menjawab keperluan sesama kita. Ini alasan yang lebih memadai. Dalam perumpamaanNya tentang orang Samaria, jusus menekankan segi ‘memberi’ itu. Seorang Yahudi digambarkan menggeletak tak berdaya ditepi sebuah jalan. Satu-satunya orang yang memperhatikan nasibnya adalah seorang Samaria,yaitu orang yang berasal dari kalangan yang dikucilkan oleh masyarakat Yahudi.
Potensi masa kini
Jelaslah bahwa keterlibatan kita dalam kegiatan membantu dan melayani sesama manusia memiliki dimensi masa depan. Kita merencanakan dan menetukan tujuan di masa depan. Namun demikian, kepuasan yang hendak kita nikmati bersumber pada masa kini. Jika kita terbuka terhadap segala sesuatu yang ditawarkan oleh masa kini, maka kita tidak akan menggantungkan segalanya pada masa yang akan datang. Kita akan terbuka bagi hubungan akrab sekarang ini dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan dan dengan diri kita sendiri. Kita akan mampu berhenti sejenak di tengah-tengah kesibukan kita untuk menghisap semerbaknya aroma bunga.
Kita memandang kesepian sebagai suatu masalah. Memang seharusnya demikian. Namun, kesepian sesungguhnya merupakan kesempatan yang baik pula bagi kita. Dengan membahas masalah kesepian, kita telah membahas pula seluruh ruang lingkup kesempatan yang disediakan bagi kita untuk mengisi hidup kita dengan sesuatu yang berharga dan membahagiakan. Dengan demikian, kesepian mulai berubah dari suatu masalah menjadi suatu kesempatan. Hal ini diungkapkan dengan tepat sekali oleh seorang janda yang telah hidup sendirian selama dua belas tahun.

Tidak ada komentar: